Langsung ke konten utama

Postingan

TENTANG “SASTRA PEDALAMAN” ITU

Nirwan Dewanto Ketua Redaksi Jurnal Kebudayaan Kalam Akhir-akhir ini, dalam khazanah sastra kita, “dominasi pusat” kembali dipersoalkan beberapa sastrawan (di) daerah “angkatan” terbaru. Sejumlah kegiatan sastra yang muncul di beberapa kota di Jawa dan Sumatera–meliputi pembacaan puisi, diskusi sastra, penerbitan buku puisi dan buletin sastra—diwarnai ketidakpuasan terhadap sang pusat yang berlaku sewenang-wenang: meremehkan atau mengabaikan bakat dan kekuatan baru yang muncul di wilayah “pedalaman” itu. Saya nyaris bersorak girang menyambut arus gugatan baru ini. Tapi saya segera tersadar, ini mengulangi lagu lama. Saya teringat kepada Gerakan Puisi Mbeling di majalah Aktuil pimpinan Remy Sylado (1972-1973), Pengadilan Puisi di Bandung (1974), Proklamasi Puisi Bebas oleh Grup Apresiasi Sastra ITB (1979), Emha Ainun Nadjib dengan kumpulan esainya Sastra yang Membebaskan (1982), dan Perdebatan Sastra Kontekstual di Solo (1984): semuanya, dengan pengetahuan yang luas dan argumentasi yang...

Puisi Umar Fauzi Ballah

Hikayat Peri Burung Pipit /22.00/ Burung pipit berteduh di bawah kamboja Matanya picing melihat mayat-mayat menari Bahagia nun di sana jauhnya. Ada suatu malam di mana gelap dibuatnya Sangsi oleh do’a seorang remaja kepada purnama: Bulan, benderangkanlah sulur mimpinya Kamarnya remang, bagaimana jika mimpinya Membentur tiang-tiang di rumahnya sendiri Hingga gagal ia bertemu mimpiku, yang seanggun bidadari /00.30/ Hihihi… Burung pipit geli (setengah mati) Malaikat nungging di dini pagi Menuruni embun sewangi bayi Remaja insomnia itu, berkali meremas jam. Berkali pula melonjak jantungnya. Ingin menuju bintang: bintang pagi! Bintang yang tak pernah kubayangkan Berbentuk segitiga lima sudut Sebagaimana digambar banyak orang Tapi berbentuk hati yang digambar pasangan sejati /02.30/ Burung pipit meninggi Ada janji yang akan mengekalkan birahinya Sebelum malam dikhianati kokok ayam. Malam hampir bening. Dan remaja itu baru saja terlelap. Tepat ketika burung pipit hinggap di jendela ru...

Disbudpar Telantarkan 'Kolastra'

BANDAR LAMPUNG (Lampost): Grup teater SMA 9 Bandar Lampung, Kolastra, ditelantarkan ofisial dari Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Lampung saat mengikuti Festival Nasional Kesenian Teater Remaja 2010 di Taman Mini Indonesia Indah. Kegiatan itu berlangsung 1—4 November. Dery Efwanto yang menyutradarai lakon Aruk Gugat—yang dipentaskan Kolastra pada festival tiga tahunan tersebut—mengatakan sejak hari pertama, rombongan yang terdiri atas 15 orang (13 pemain, 1 sutradara, dan 1 guru pembimbing) sudah ditelantarkan. "Penginapan dicampur antara laki-laki dan perempuan," kata Dery, Jumat (5-11). Padahal, jika melihat grup teater dari provinsi lain, ujarnya, penginapan dipisahkan, perempuan menginap di anjungan daerah masing-masing dan laki-laki di wisma yang disediakan oleh panitia. "Tetapi, oleh tim ofisial, kami tidak didaftarkan ke anjungan Lampung," kata dia. Menurut Dery, jika didaftarkan, pihak Anjungan Lampung siap mengurusi segala kebutuhan rombongan...

FESTIVAL SENI SURABAYA; Gaungnya Nyaris Tak Terdengar

Oleh: Abdul Lathief Senin, 15 November 2010 | 03:22 WIB SUMBER: http://cetak.kompas.com/read/2010/11/15/0322385/gaungnya.nyaris.tak.terdengar Hari Sabtu (13/11) malam berbarengan dengan pentas ”Rumah Pasir” oleh Teater Koma Jakarta dalam rangkaian Festival Seni Surabaya 2010 bertajuk ”Surabaya Experience” di Gedung Cak Durasim, di Gedung Utama Balai Pemuda Surabaya yang semula dipakai untuk aktivitas FSS justru menjadi tempat penyelenggaraan acara perkawinan. Panggung FSS dengan segala perlengkapan pendukung seni pertunjukan sudah disiapkan di dalam gedung utama. Namun, sejak Jumat (12/11) sudah mulai dibersihkan karena hendak dipakai untuk hajatan dan pesta perkawinan yang sudah mengikat kontrak dengan pengelola Balai Pemuda Surabaya. Ironis, itulah yang terjadi sepanjang sejarah Festival Seni Surabaya. Sebab, selama ini tatkala perhelatan berlabel FSS, kompleks Balai Pemuda nyaris berubah wajah menjadi oase sekaligus etalase seni dan budaya selama aktivitas festival berlangsung. Re...

5 Besar KHATULISTIWA LITERARY AWARD 2010

Salam sastra… Para praktisi, akademisi, dan penyuka sastra Indonesia yang terhormat. Berikut kami sampaikan hasil penjurian tahap 5 besar (shortlist) anugerah sastra Khatulistiwa Literary Award ke-10, 2010, yang tersusun secara acak: Kategori Prosa: 1. Rahasia Selma (kumcer), karya Linda Christanty, GPU, April 2010 2. Kekasih Marionette (kumcer), karya Dewi Ria Utari, GPU, Juli 2009 3. 9 dari Nadira (kumcer), karya Leila S Chudori, KPG, Oktober 2009 4. Sepotong Bibir Paling Indah di Dunia (kumcer), karya Agus Noor, Bentang Februari 2010 5. Klop (kumcer), karya Putu Wijaya, Bentang, Mei 2010 Kategori Puisi: 1. Buwun, karya Mardi Luhung, Pustaka Pujangga, Februari 2010 2. Penyeret Babi, karya Inggit Putria Marga, Anahata, Januari 2010 3. Konde Penyair Han, karya Hanna Fransisca, Katakita, Mei 2010 4. Sejumlah Perkutut buat Bapak, karya Gunawan Maryanto, Omahsore, Mei 2010 5. Tersebab Aku Melayu, karya Taufik Ikram Jamil, Yayasan Pustaka Riau, Juni 2010 Kepada para nominator yang tercantu...

Puisi-puisi Kriapur

KUPAHAT MAYATKU DI AIR kupahat mayatku di air namaku mengalir pada batu dasar kali kuberi wajahku pucat dan beku di mana-mana ada tanah ada darah mataku berjalan di tengah-tengah mencari mayatku sendiri yang mengalir namaku sampai di pantai ombak membawa namaku laut menyimpan namaku semua ada di air Solo, 1981 AKU INGIN MENJADI BATU DI DASAR KALI Aku ingin menjadi batu di dasar kali Bebas dari pukulan angin dan keruntuhan Sementara biar orang-orang bersibuk diri Dalam desau rumput dan pohonan Jangan aku memandang keluasan langit tiada tara seperti padang-padang tengadah Atau gunung-gunung menjulang Tapi aku ingin menjadi sekedar bagian dari kediaman Aku sudah tak tahan lagi melihat burung-burung pindahan Yang kau bunuh dengan keangkuhanmu —yang mati terkapar Di sangkar-sangkar putih waktu O, aku ingin jadi batu di dasar kali 1982 KOTA KOTA KOTA dari kerangka tanah kerangka darah ribuan jasad angin terdampar di kota lapar pengembara hanya bayang-bayang ngambang kerangka ombak berkejaran...

Puisi-puisi Indra Tjahyadi

AFTERWORD pada akhirnya kau pun pergi entah ke benua mana entah ke laut mana entah ke dunia mana tapi masih saja aku setia kirimkan pesan pesan singkat buatmu meski di gerimis tak mesti hanya rasa sakit yang menghubungkanku denganmu dengan bayang-bayang darah yang menjelma huruf huruf sunyi bait-bait murung sajakku 2007. MAUT SENDIRI engkau terasa begitu jauh bahkan lebih jauh ketimbang bulan sungguh pernah kurajahkan kembang dan kupu-kupu di gelap dadamu tapi kecantikanmu adalah kepergian dikekalkan jarak terjauh siapa bertugur sendiri di bawah kabut mereguk derita yang tak juga surut bersama luka sunyi membakar buku-buku umur dan kerinduanku kiranya ingin aku mengaduh sekali lagi padamu ketika seekor burung malam terbang menembus mendung tapi hanya sosok langit yang remuk yang pernah terpekik dari suaraku tak ada doa tak ada airmata yang mengantarku sampai ke dasar lubuk kubur di kota tandus tak berlampu kututupkan pelupukku kukenang namamu darah hitam menetes dari sajakku butirannya...