Asli Buatan Indonesia

Silahkan Dicoba

Senin, 14 Januari 2013

Puisi-puisi Agam Wispi

Agam Wispi, (lahir di Pangkalan Susu, Sumatera Utara, 31 Desember 1930 – meninggal di Amsterdam, Belanda, 1 Januari 2003 pada umur 72 tahun), adalah seorang penulis Indonesia, termasuk sebagai salah seorang penulis sastra eksil Indonesia. Ia mulai menjadi eksil, orang yang hidup di pengasingan, di Belanda sejak tahun 1988. Ia adalah seorang penyair, banyak menulis sajak, juga cerpen dan drama. Puisi-puisi ini diambil dari situs marxist.org.


Surabaja

tiap kita djumpa
surabaja
aku selalu remadja
gembira kepada kerdja
pasti kepada harapan
surabaja
laut dan kota
rata

surabaja bau keringat
bau kerdja
ketegarannja harum semerbak
dan malamnja malam bertjinta
deritanja
terisak-isak
dalam dengus napas
darah bergelora
tjemara bersiut
meliut semampai
wilo merunduk
merenung sungai
besok ke laut
dia akan sampai

tapi ini!
malam pelaut
buih hidup
jang menggapai!
surabaja
lebih remadja
dalam bantingan usia

kutjinta surabaja
sebab dia kota kelasi
kurindukan surabaja
sebab trem berlari-lari
(djakarta? Term diganti impala!)
kusukai surabaja
sebab betja dan taman
ditepi kali
kubanggakan surabaja
sebab dia kota berani
kusenangi surabaja
sebab kedjantanan bernjanji
kepahlawanan bergolak
dari kantjah-kantjah jang menggelegak
dan tahun-tahun kenangan
jang diwariskan
mogok pertama
buruh kereta api
zeven provincien
buruh pelabuhan dan pelaut
bersatu hari
disiram hudjan peluru
dan dentjing belenggu
rantai besi, bendera pertama
internasionalisme proletar
dipantjangkan
proklamasi ? sitiga-warna diturunkan
dan dalam pelukan sang saka
dipandjatkan kepuntjak perlawanan
kemudian
diantara serpihan bom
jang mengojak
dan kota jang terbakar
terbakarlah semangat pertempuran
njalanja
tak terpadamkan
hingga kini
nanti
dan kapanpun
njalanja panas menempa
badja kemerdekaan
badja kehidupan
ketika kita tidak lagi bertanja
pilih njala atau pilih badjanja?
dan kita merebut
kedua-duanja!
djauh mengatasi segala
pekik pilu dan djerit sendu
ratapan kehilangan dan erang kesakitan
adalah bagai ibu jang melahirkan baji
jang kemudian memeluk dan menjusui
serta mengusap-usapnja dengan kesajangan kebahagiaan
disitu Hari Pahlawan
dilahirkan
kko pesiar
menunggu trotoar
kelasi-kelasi
melambaikan dasi
jang bernama “kesenangan” memperpandjang umurnja
maka itu djadi terlambat
tapi bus dan truk tidak menunggu
ajo, pulang djalan kaki!
tjinta sudah ketinggalan
ditembok-tembok kota
o, ketika kapal merapat lego djangkar
pelabuhan mengulurkan tangannja
dan lampu kota mengerdipkan matanja
dan bus-bus kadet menderu
megah
dan di tundjungan sikadet melangkah
gagah
putih-putih
dan gadisnja dua
jang satu pedang jang satu wanita
dan si gadis punja mata kedjut pelita
dan si pedang punja mata gelegak darah mudah
si kadet djua permata dari lautan
bukan main!
namun adakah permata berkilau
tanpa sebersit tjahja mentjekau?
dan tiadalah angkatan perang
tak bertulang-punggung
kukuh
merekalah
kelasi dan pradjurit
darat laut udara
polisi
milisia dari rakjat pekerdja
tangan-tangan badja jang keras menghentam
tidak perduli bom nuklir
tapi tangan!
tangan jang menentukan
jang menghajunkan pedang kemenangan
selama di djantungnja
debur-mendebur
gelora repolusi
mengabdi rakjat pekerdja
sokoguru
buruh
tani
matahari tenggelam
di djembatan wonokromo
surabaja berdandan
bagi malam berdesau
tjemara
tjadar kota
jang disingkapkan
surabaja
napas merdeka
jang dipertaruhkan
pahlawan-pahlawan lahir
pada djamannja dan diukur
oleh pengabdiannja
kepada rakjat
dan hari depannja
djaman lampaupun berlalu
djaman baru datang
melahirkan pahlawan baru
namun pahlawan sebenarnja
hanja tumbuh dalam lumpur dan debu
pembesar-pembesar boleh bermatian
orang-orang besar boleh berlahiran
tenaga segar dari kepahlawanan
djuga sekarang
djika muda-mudi berperasaan
merasakan hidup sampai ke tulang-sumsumnja
dan jang tua-tua teguh
membatu karang oleh hempasan gelora
merekalah orangnja
dan kebanjakannja
tak bernama
merekalah petani jang dirampas tanahnja
kembali merebutnja dari setan-setan desa
mereka jang berdjuang membebaskan dirinja
dari belenggu perbudakan tanah
dan buruh-buruh pelabuhan buruh pabrik
jang beruntun-rutun pagi hari
berkilat-kilat oleh keringat
dan hitam oleh matahari
pengangkut pasir jang menunggu
perahu menghajut ke gunung sari
betja jang berkerumun di lubuk djalanraya
kko – kelasi – pradjurit
jang ingat kepada asalnja
pegawai-pegawai jang sadar kepada klasnja
(bukan pemabok “karyawan jang mengingkari “makan-gadji”)
si miskin-kota jang kehilangan desanja
dan mengisi sudut-sudut gelap kota
dengan kerdap-kerdip pelita
petani-petani jang dirampok panennja
dan tepat menghidjaukan bumi, memerahkan tanah
pemuda peladjar mahasiswa jang membakar buku USIS*
dan mengusir setan-setan ilmu dari amerika imperialis
untuk mematahkan belenggu kebodohan
ratjun kemerdekaan jang berbungkus kenikmatan hampa
dan surabaja
berderap dalam tempik-sorak
meski bau tengik dan sarang malaria
sama banjak njamuk dan lalat dimana saja
tunggu! suatu hari pernjataan perang
djuga kepadamu!
disini ketegaran berkata sederhana
keras dan langsung kehulu-hatimu
jang sudah mati, ja sudah!
jang hidup sekarang, menjiapkan repolusi
dimana masing-masing beri djanji
merdeka atau mati!
bagi keringat kaum buruh
bagi tanah-tanah petani
bagi kepertjajaan kepada harapan
MANUSIA
ja, sekarang kita bertanja
sudahkan tanah bagi petani?
sudahkan keringat bagi kaum buruh?
jang sudah – sedikit!
jang belum – banjak!
menteri-menteri tetaplah turun naik
jang belum, kepingin djadi menterei
jang djelek, tak mau turun
jang baik, masih di podium
dan rakjat tetap menuntut: kabinet nasakom!
dan kabir-kabir main sunglap dengan peluru, wang, dan senjum
dengan tuantanah dan imperialis?
seketurunan! satu medja-makan dan sama-sama minum dan pemimpin-pemimpin munafik menghamburkan budi ikut berteriak “ganjang malaysia! Berdiri di atas kaki sendiri!”
kemak-kemik pantjasila, manipol, djarek, sukarnoisme
tapi main mata dengan modal monopoli
gudang ratjun komunisto-phobi
buruh phobi
tani phobi
partai phobi
imperialisme amerika? Tunggu dulu!
dan sardjana-sardjana membalik-balik bukunja
tapi tak mengenal aspirasi tanahairnya sendiri
dan seniman memabokkan diri dengan kepuasan murah
tak tahu kemelaratan dan kebangkitan rakjatnja sendiri
dan politikus mentjatut teori dengan “ala indonesia”
munafik-munafik ini mau melupakan sumbangan dunia
kepada sedjarah dan perdjuangan klas
sungguh, kekerdilan yang memalukan dan hina
adalah mereka jang mau menutup laut dengan telapak tangannja
laut daripada kebenaran perdjuangan klas
o, sudahkah keringat bagi kaum buruh?
sudahkah tanah bagi kaum tani?
jang menggarap!
jang menggarap!
jang menggarap!
betapa berbelit-belit
plintat-plintut
tapi adakah jang lebih tegas dari kebenaran?
sebab dia tak dapat digeser dari relnja repolusi?
abad-abad telah menjumbangkan lokomotip-lokomotip raksasa
jang menderu kentjang menembus belantara kegelapan
dengan perdjuangan klas dan repolusi
dengan marx, engels, dan lenin
dengan mau tje-tung, bung karno, dan aidit
dengan diri sendiri; rakjat tertindas
antara sabang dan sukarna-pura
di seluruh dunia dimana sadja

o, djanganlah hanja membaca hurup-hurup
tapi tak menangkap hakekat dan arti
o, djanganlah sungai lupa kepada laut
dan kemerdekaan tinggal abu tanpa api
sebab kami
surabaja
sudah banjak mati

sebab kepahlawanan sehari-hari
tidak pada jang sudah mati
berkata pemimpin besar repolusi
djaman ini djaman konfrontasi
pemimpin tengahan bitjara lain lagi
katanja: perdamaian universil dan konsepsi

dan perdamaian djadilah dewi ketjantikan
dan pedang kemerdekaan ditumpulkan

maka konsepsipun berlahiran diatas kertas
dan kertas-kertas berhamburan setjepat inflasi
mereka jang bekerdja dilaparkan oleh djandji
mereka jang malas berpikir tanpa batas

jang tak tahu ekonomi politik
mau bikin ekonomi politik
maka begitu naik djadi menteri
harga beras melambung tinggi
maka berkatalah rakjat suatu hari
bisa sekarang bisa nanti
stop!
mau konsepsi apa lagi?
kami sudah banting kemudi ke u.u.d empatlima
kami sudah bikin manipol dan nasakom
land reform dan dekon
ajo, konfrontasi
melawan tudjuh setan-desa
imperialis amerika
atau
sebelum roda ini melindas
minggir!

kami mau repolusi
kami mau buku dan pedang ditangan
kami mau tanah dan bedil dibidikkan
kami mau palu dan meriam didentumkan
kami mau pukat dan kapal-selam berkeliaran
kami mau indonesia dan rakjatnya jang gesit berlawan
bagi repolusinya dan bagi dunianya
bagi dunia dan bagi repolusinya

dan surabaja
senatiasa remadja
dalam bantingan usia
berdjuang
beladjar
kerdja

kutjinta surabaja
dia kota kelasi
kurindukan surabaja
sebab trem berlari-lari
kusukai surabaja
betja dan taman ditepi kali
kubanggakan surabaja
kota berani mati
kusenangi surabaja
kedjantanan jang bernjanji

surabaja
menghadang pukulan
menghantam
bertubi-tubi
disini tjemara bersiut
meliuk semampai
dan wilo merunduk
merenung sungai

kelasi, djika besok kelaut
djangan lupa kepada pantai 

Keterangan: *USIS adalah United States Information Service, aparatus propagandanya Amerika Serikat untuk mengedepankan kepentingan nasionalnya ke negara-negara asing.

Dia jang lahir dalam kantjah perdjuangan*

dia jang lahir dalam kantjah perdjuangan
kini sudah besar dan mendjadi dewasa;
dia jang dibesarkan dalam dadung pertempuran
beribu-ribu gugur, namun berdjuta mengangkat pandjinja.

orang-orang munafik dan kerdil pikiran sia-sia mengintip rahasia:
mengapa sedjarah berpihak kepada klas jang paling muda?
mengapa komunisme kian merata, terudji, dan ditjinta?
dan bagi rakyat pekerdja, pedjuang proletariat ubanan tetap remadja?

siang bertukar malam dan malam berganti pagi
ribuan tahun manusia terbenam di lumpur perbudakan
dan di kegelapan pikiran itu marx dan engels memertjikkan api
dan di tiap negeri berkumandanglah lagu kebangkitan.

seorang egom mati di tiang-gantungan
seorang aliarcham tewas di tanah-buangan;
generasi baru datang, beladjar tentang keberanian dan kearifan
satu demi satu musuh dikalahkan dan satu demi satu direbut kemenangan.

marxisme-leninisme menemap perdjuangan kelas
dan perdjuangan klas menjemai marxisme-leninisme;
o, repolusi tjermelang, jang sedang disiapkan nasion-nasion tertindas
dalam abad ini djuga kita punahkan imperialisme.

pada hari ke-empat-puluh-lima
dia sudah besar dan dewasa;
diutjapkan atau tidak, rakyat pekerdja menjebut namanja
sederhana dan terang: Partai Komunis Indonesia

*judul diambil dari baris pertama. Puisi ini sebenarnya tak berjudul

Baca Selanjutnya

Senin, 17 Desember 2012

Menolak Kanalisasi Puisi Jawa Timur

Oleh Arfan Fathoni*

MENYIMAK esai F Aziz Manna yang berjudul “Tiga Aliran Puitika Jawa Timur” sangat terasa sekali bahwa para kritikus (atau pengamat?) sastra kita masih gemar dengan kanalisasi dan dikotomi, membagi-bagi masyarakat menjadi beberapa blok. Di satu sisi, hal ini dapat memudahkan kita dalam mengidentifikasi, lebih-lebih meneliti secara mendalam sebuah kelompok dan estetika yang diusung suatu kelompok. Namun, di sisi lain, pendikotomian itu tak pelak akan menimbulkan pola-pola pemikiran bahwa hubungan dalam sastra ternyata kurang lebih sama dengan hubungan gangster. Di mana, seseorang harus bergabung dengan seseorang yang lain untuk menghadapi kelompok lain.
Aziz membagi aliran puitika Jawa Timur dalam tiga kelompok besar : aliran para pemilik teguh puisi gelap, aliran para peyakin puisi terang, dan aliran alternatif penganjur suara-suara lain yang dipelopori oleh W Haryanto. Pembagian ini sendiri sudah mengesankan hal yang berbau Surabaya-sentris. Artinya, pembagian ala Aziz juga menunjukkan bahwa dua kelompok besar yang “eksis” berada di Surabaya. Sementara kelompok lain yang berada di luar Surabaya, condong diremehkan dan harus rela ditaruh dalam satu aliran yang diembel-embeli sebagai “alternatif”.
Aliran puisi gelap sendiri adalah aliran yang dipelopori sebagian besar eksponen Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) dan Teater Gardu Puisi (Gapus). Oleh Arif B Prasetyo, aliran ini dikatakan memberikan kontribusi pada sastra Indonesia kontemporer. Aliran puisi gelap konon mengekspos panorama kegelapan jiwa dengan kadar kepekatan dan kemabukan yang belum pernah terpampang dalam khasanah puisi dari berbagai provinsi lain.
Dalam kesempatan lain, salah satu anggota dari aliran ini, Indra Tjahyadi, pernah mengungkapkan manifesto puisi gelap di mana tugas penyair adalah menyelamatkan manusia dari kejatuhan mengerikan ke jurang kebanalan dunia. Untuk itulah, puisi harus didorong ke arah pemaknaan yang paling ambigu, yakni dengan menggelapkan makna.
Tugas penyair dari dulu memang selalu ambigu. Di satu sisi, ia memfungsikan dirinya sebagai perombak peradaban atau meminjam bahasa Octavio Paz, membawa suara lain. Di sisi yang lain, penyair tak lebih hanya sebagai pengkhayal, sekumpulan (dan ini yang sangat parah) pengangguran yang bahkan untuk menyelamatkan dirinya saja harus berharap pada kebaikan orang lain. Melihat kondisi terkini, sangat mungkin sebagian besar pelaku sastra di Indonesia dapat kita masukkan ke dalam golongan terakhir.
Entah, ketika Aziz menulis esai tersebut apakah ia dalam keadaan sadar. Bahwa ia adalah salah satu bagian dari Forum Studi Sastra dan Seni Luar Pagar (FS3LP) yang mengusung puisi gelap memang benar. Akan tetapi, dalam Festival Seni Surabaya 2010, bukankah Ribut Wijoto selaku PO Sastra menulis bahwa puisi-puisi Aziz sudah melampaui tradisi puisi gelap (dalam bahasa Ribut adalah post-puisi gelap). Secara estetika pun, puisi-puisi Aziz menolak mengekspos panorama kegelapan jiwa yang dikatakan oleh Arif B Prasetyo sebagai landasan puisi gelap.
Lantas, bukankah Mashuri, salah tokoh gerakan puisi gelap, juga sudah mulai meninggalkan kegelapan puisi ala Luar Pagar ini? Dan Indra Tjahyadi yang menjadi pengusung “Manifesto Puisi Gelap” kini lebih banyak mengeksploitasi sisi dukalara, kesedihan, dan mendung perasaan seorang manusia. Dalam ulasan Arif B Prasetyo, kecenderungan ini mengakibatkan puisi Indra menjadi semakin terang. Ribut Wijoto, sebagai juru bicara gerakan puisi gelap, ternyata juga menulis puisi yang tak dapat dibilang gelap. Lantas apakah masih kontekstual jika para tokoh di atas dilabeli sebagai pengusung puisi gelap?
Sangat disayangkan, Aziz mungkin agak abai membaca perkembangan generasi penyair terkini yang tumbuh di lingkungan Unair Surabaya. Sebagai tempat kelahiran dan penggagas puisi gelap, mazhab ini mulai luntur dari dalam. Bacalah penyair-penyair muda dari Unair semacam Ayu Kartika Dewi, Abimardha Kurniawan, Asril Novian Alifi, Sonny Alfansa, sampai Mamik Bo Wijaya. Puisi-puisi mereka juga mengangkat hal remeh temeh yang dikatakan Aziz banyak digarap oleh penyair dari Komunitas Rabo Sore.
Pemberian label terang pada penyair-penyair yang bernaung di dalam Komunitas Rabo Sore (atau Unesa pada umumnya) juga tidak sepenuhnya tepat. Pada perjalanan awal kepenyairannya, Dody Kristianto menolak konsep puisi komunikatif dan terlarut dalam penggelapan makna sebagaimana dieksploitasi oleh para penyair Luar Pagar. Puisi-puisi Dody yang terpublikasi dalam antologi tunggalnya Lagu Kelam Rembulan (SARBI, 2012) setidaknya menunjukkan itikad tersebut. Selain itu, puisi-puisi yang ditulis oleh Heru Susanto dan GS Wijaya dari Forum SARBI (yang notabene juga berkuliah dan berproses di Unesa) juga menunjukkan kecenderungan bergelap-gelap ria. Akan tetapi, sangat disayangkan bahwa ketiga penyair Forum SARBI ini tidak mau memproklamasikan dirinya sebagai penyelamat umat manusia dari kejatuhannya.
Maka, dalam satu kota sangat mungkin terdapat lebih dari satu estetika. Dan sebenarnya sangat disayangkan, Aziz memotret perkembangan ini berdasarkan data di atas meja. Aziz kurang memiliki ketekunan sebagaimana yang dilakukan oleh W Haryanto yang selama ini, turun langsung ke bawah dan mengadakan diskusi dengan komunitas-komunitas yang hidup di daerah.
Apa yang ditulis oleh Aziz tentu sangat berisiko jika diletakkan sebagai panduan terkini untuk membaca gelagat sastra Jawa Timur. Ya, tiga aliran yang dibaca oleh Aziz ini hanya sebatas data-data di atas meja dan kurang elok jika harus dilabeli sebagai dunia puisi Jawa Timur dalam konteks yang utuh.(*)

*) Fungsionaris Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI).
Baca Selanjutnya

Jumat, 14 Desember 2012

Multikulturalisme : Basquiat yang Mendobrak Andy Warhol

esai Faisal Kamandobat
Kita buka perbincangan multikulturalisme dengan menyebut nama yang tak asing lagi: Jean Michel Basquiat. Mungkin tak ada yang menyangka dia akan menjadi legenda seni rupa. Basquiat lahir dari keluarga negro-Amerika yang berantakan dan tumbuh di lingkungan yang sama. Kasarnya, ia tak memenuhi syarat sukses menurut ukuran borjuis kulit putih: lahir dari keturunan baik-baik, menempuh pendidikan dengan nilai bagus, dan lulus dari universitas yang diperhitungkan.
Akan tetapi, Basquiat lahir ketika perbudakan dan rasisme diolok-olok, nilai konservatif kelas menengah mulai ditinggal perubahan sosial yang gegap, dan sikap akademisme kaku jadi bulan-bulanan kompleksitas sosial. Kemunculan Basquiat dibentuk konteks itu, dengan lukisan-lukisan khas ekspresi kaum negro: coretan grafiti, ikon-ikon acak serupa ragam hias primitif, figur-figur anatomi mahapincang, dan warna yang bikin pusing pelukis realis jempolan.
Tema-temanya pun tepat dengan bentuk visualnya: candu, blues, jazz, puisi-puisi liar dengan huruf sama liarnya, serta berbagai ikon tradisi kulit hitam.Ukuran estetika seni rupa modern khas Eropa yang menempatkan individu genius penemu konsep universal lewat permainan garis, bidang dan warna, tentu risi dengan ekspresi seniman seperti Basquiat yang tak mengikuti tahap pembelajaran seni modern. Siapa dan di mana pun—tanpa melewati tahap-tahap itu—jangan harap masuk sejarah seni modern.
Namun, setiap kultur punya tradisi pengetahuan dan seninya sendiri (Negro, Hispanik, Kreol, Anglo-Saxon, dan seterusnya). Memaksakan klaim universal seni modern tak ubahnya mereduksi bentuk topeng Afrika berdasarkan prinsip geometri Euclid. Dan lukisan-lukisan Basquiat adalah “bentuk lain” di tengah universalitas modernisme yang tunggal itu, beriringan dengan gerakan antirasisme, feminisme, dan seterusnya.
 
Ekonomi nilai
Membaca Basquiat dari rasisme, meski tak terhindarkan, terasa sentimentil dan kuno (meski rasisme terang-terangan masih jadi bagian sah ketaksadaran kolektif zaman sekarang.) Lebih luas dan aktual membawa Basquiat ke ruang urban, di mana estetika seni modern khas Eropa dengan gaya scientific-nya mulai digeser estetika representasi yang muncul di ruang publik kapitalisme pasar. Pada babak ini, aktor utamanya bukan Basquiat, melainkan si feminin Andy Warhol.
Menghadapi para pelukis Eropa berkarakter filsuf-ilmuwan, Warhol melakukan diplomasi artistik elegan dengan tidak mengikuti logika kompetitornya. Baginya, melukis bukan olah intelektual abstrak serupa matematika atau fisika yang mencari konsep dasar geometri semesta dan realitas, melainkan upaya memotret perubahan sosial historis.

Lukisan Basquiat
Lukisan Basquiat

Beda dengan Matisse yang berkeras mencapai garis esensial, atau Picasso yang mendistorsi geometri formal, atau De Chirio yang menangkap (sambil mengkritik) dimensi fisis-matematis manusia lewat lukisannya, pula Dali dan Ernst yang menelanjangi realitas lewat surealisme, Warhol berusaha membedah kondisi manusia kapitalistik. Bagi Warhol, bukan matematika atau fisika, filsafat atau ideologi yang mengubah manusia dan dunia, melainkan modal.
Toh, tanpa modal, fisika, matematika, filsafat, atau ideologi (juga seni rupa!) tak menghasilkan teknologi, sistem nilai, dan jenis budaya yang masif dan populer. Warhol melukis Kennedy dan Marilyn Monroe yang jadi ikon dunia berkat media, Coca- cola yang mengubah pola minum sekian persen umat manusia, sepatu dan tas yang maknanya melampaui fungsinya. Pula Jackie Kennedy yang dengan gaya glamour-konsumtifnya mengubah karakter aristokrat-puritan para politisi Gedung Putih.

Marylin, Andy Warhol
Lukisan Warhol, Marilyn Monroe

Temuan Warhol segera dirayakan kelas menengah Amerika. Bertahun-tahun negeri ini tak mampu menghadapi Eropa dengan kepala tegak. Kultur, sejarah, dan seni mereka dianggap sekadar catatan kaki benua itu.Berkat Warhol, Amerika tak lagi grogi menghadapi negeri-negeri Eropa kontinental, khususnya yang menjadi laboratorium aktif seni rupa modern, seperti Perancis, Belanda, dan Italia.Peran negaraSeni khas Amerika lahir dari realitas khas negerinya, di mana kapitalisme membentuk relasi imigran dari berbagai bangsa. Bukan agama dan etnik yang memengaruhi ikatan sosial khas Amerika, melainkan kapitalisme.

Perbedaan budaya digeser dari antarsuku, bangsa, dan agama, ke perbedaan selera produk konsumsi. Paradigma pluralisme tak memadai lagi karena itu lahirlah multikulturalisme.
Dan multikulturalisme memang cocok pada masyarakat kapitalisme lanjut, di mana seluruh aspek kehidupan telah tereduksi pada nilai modal (beda dengan kapitalisme industri di mana seluruh aspek kehidupan belum terekonomisasi).
Dalam kapitalisme lanjut, peran lembaga sosial tak sekuat lembaga finansial. Pengaruh pakar pemasaran, iklan dan bintang film lebih nyata dibandingkan dengan menteri pertahanan, politisi, apalagi birokrat. Multikulturalisme memahami budaya sebagai pilihan konsumsi individu (seperti musik, film, olahraga, dan mode) serta bukan konstruksi “genetik” sosial historis (seperti ras, bahasa, agama dan etnik).
Namun, multikulturalisme menyimpan dilema. Kemunculan Basquiat dengan lukisan-lukisan grafitinya yang “mencoret” ikon- ikon budaya pasar Warhol menunjukkan bahwa dalam masyarakat kapitalisme lanjut, kendati seluruh aspek kehidupan telah tereduksi menjadi nilai modal, tidak semua kelompok sosial mendapat akses finansial yang sama, persis seperti dialami kaum negro Amerika.
Basquiat menelanjangi visi estetik Andy Warhol dan sekelompok ilmuwan sosial yang demi menjaga ketertiban di lingkungan urban melahirkan jenis seni dan teori sosial mengenai kelompok yang diuntungkan sambil mendiamkan atau menyisihkan mereka yang tertindas dan dirugikan.
Yang menyelesaikan persoalan ini tidak cukup dengan hanya memberi ruang representasi sosial kepada yang dirugikan (subaltern), tetapi juga memberi akses finansial yang memadai. Dalam hal ini, peran negara (khususnya ekonomi) diperlukan sejauh pada batas yang wajar. Tanpa itu, setidaknya ada dua hal yang patut dicatat. Pertama, suasana tertib “multikultural” hanya permukaan belaka, tidak menyentuh substansi sesungguhnya. Kedua, kapitalisme lanjut akan mengalami krisis karena jika seluruh ruang telah dijejali lembaga-lembaga finansial, krisis sosial akan terbungkam.
Padahal, kapitalisme membutuhkan kontrol sosial jika tak ingin bangkrut seperti anaknya yang heroik: komunisme.
Baca Selanjutnya

Kamis, 13 Desember 2012

Perihal Musim Ketiga Rabo Sore

Dody Kristianto

Semacam Pertanggungjawaban
Pertama, saya akan selalu mengelak dan menolak sebutan kurator yang dialamatkan pada saya, yang menyeleksi puisi-puisi dan cerpen dalam kumpulan ini. Tersebab, memang bukan kapasitas diri saya dan saya menganggap tugas saya hanya sebagai penyeleksi puisi yang akan ditampilkan dalam buku ini. Tugas kuratorial harus memiliki satu konsep mengenai isi buku atau garis besar yang akan ditampilkan kepada khalayak luas.
Sementara, saya masih ingin berbicara sebagai penikmat, sekadar penikmat, dengan konsep yang tentu sangat subjektif. Konsep yang saya yakini dalam membaca puisi dan cerpen. Maka saya hanya berposisi sekadar sebagai pembaca yang diberi kewenangan lebih untuk menentukan puisi-puisi yang akan dimuat dalam buku kumpulan puisi Rabo Sore ini.
Kedua, buku yang akan saya seleksi materinya ini adalah buku kumpulan puisi dan cerpen Komunitas Rabo Sore, komunitas muda namun dengan sejumlah pencapaian yang dapat diperhitungkan pada ranah sastra lokal maupun nasional. Pernyataan ini tentu dapat dipertanggungjawabkan dan dibuktikan dengan  pemuatan karya para anggotanya pada media-media yang dipandang sebagai kanon sastra baik lingkup lokal atau pun nasional. Pemuatan karya para anggota Komunitas Rabo Sore tentu menunjukkan kualitas yang tidak semenjana. Setidaknya, karya para anggota Komunitas Rabo Sore, khususnya puisi, dipandang memberi penyegaran pada ranah kesastraan, terlebih mendobrak kondisi beku perpuisian di Surabaya.  
Ketiga, saya bekerja dalam kondisi yang dibatasi oleh ruang dan waktu. Dibatasi oleh ruang sebab akhir-akhir ini saya memang sangat jarang, atau malah tidak pernah, mengunjungi diskusi rutin Rabo Sore. Hal ini menyebabkan saya mungkin tidak mengenal sebagian besar penyair dan cerpenis yang akan ditampilkan dalam antologi ini, bacaan-bacaan apa saja yang pernah mereka baca, serta bagaimana proses mereka dalam berkarya.
Setidaknya, saya mencoba beradaptasi dengan mereka melalui interaksi yang rutin atas teks-teks mereka yang selanjutnya saya baca dan salami. Selanjutnya, hal positif yang bisa dipetik dengan jarangnya saya berinteraksi dengan teman-teman Rabo Sore adalah objektivitas dan amatan saya terhadap karya dapat dijaga (meski hal ini tidak mutlak dan akan selalu dapat diperdebatkan).
Saya juga dibatasi oleh waktu yang sangat sempit dan menghimpit. Dari sekian banyak karya, saya harus dapat menentukan dengan cepat karya-karya mana yang layak, tentu menurut subjektivitas dan selera pribadi saya selaku penyeleksi, untuk dihadirkan dalam buku kumpulan puisi dan cerpen Komunitas Rabo Sore.
Para penyair dan cerpenis yang teksnya datang pada saya juga dalam kondisi beragam. Ada yang (semoga) telah mapan dalam hal pilihan pengucapan atau gaya bertuturnya dan mereka yang masih baru bertungkus lumus membaca dan menulis sastra, entah puisi atau cerpen. Puisi dan cerpen yang dikirim pada saya jumlahnya juga tak sama. Seorang penyair ada yang mengirim sampai lima belas puisi, namun ada juga yang mengirim hanya tiga puisi. Begitu pula cerpen,  seorang cerpenis ada yang mengirim sampai lima cerpen. Pengirim hanya satu cerpen saja ternyata masih tetap ada.
Akhirnya sesuai dengan kesepakatan antara saya dan teman-teman lain yang turut bekerja sebagai konseptor dalam pembuatan buku ini, maka diperlakukan ketentuan bahwa batas minimal pemuatan di buku ini adalah tiga puisi dan maksimal lima puisi. Dan pengiriman puisi tersebut sebenarnya belum cukup. Ada juga beberapa puisi yang saya ambil dari dokumentasi yang saya miliki. Hal ini untuk menutupi kekurangan jumlah puisi yang dikirim dalam jumlah minim. Selain itu, ada beberapa karya dalam dokumentasi pribadi saya yang saya nilai layak untuk ditampilkan sebab pengucapannya, mungkin, lebih baik dari karya yang dikirim via email. Sementara, bagi cerpen diberlakukan satu cerpenis satu cerpen yang dimuat. Tidak menutup kemungkinan seorang penulis bisa mengirim materi puisi dan cerpen secara bersamaan dan akhirnya dua materi itu akhirnya termuat. Sebuah kesegaran ketika buku kumpulan puisi dan cerpen masih sering dipisah dan jarang yang disandingkan dalam posisi setara sejajar.
Dengan demikian, tuntas sudah tugas saya sebagai penyeleksi puisi dan cerpen untuk buku ketiga keluaran Komunitas Rabo Sore.

Merekam Rentang
Buku kumpulan puisi ketiga Komunitas Rabo Sore ini memiliki perbedaan dengan dua kumpulan sebelumnya : Album Tanah Logam dan Duka Muara. Dikatakan berbeda sebab bentuk yang lahir kali ini tampaknya ditakdirkan tak sama. Ingat, dua buku terdahulu hanya sekadar memuat puisi, sementara buku ketiga ini memadupadankan antara puisi dan cerpen. Pun buku ini nampang lebih padat dan terasa kolosal.
Para penyair dan cerpenis dalam buku ketiga Komunitas Rabo Sore adalah mereka yang berproses tidak dalam satu waktu alias lintas generasi. Para penyair dalam antologi Album Tanah Logam : A Muttaqin, Alek Subairi, dan Didik Wahyudi berproses dalam satu waktu. Begitu juga dengan Arif Rahman, Akhmad Fathoni, Ashif Hasanuddin, Dody Kristianto, Ilham Persada Syarif, M Sijjib, serta Umar Fauzi Ballah yang menghuni Duka Muara. Mereka sering diasah oleh pertemuan-pertemuan rutin ala Rabo Sore.
Buku ini dihuni oleh dua belas penyair, lintas generasi dan empat cerpenis berbakat. Nama-nama semacam Irna Tantira, Jennita Diah, Riaz Nihlah K, Juniar Wulan, Ahmed Miftahul Haque, Cindy Febrinda Sari, Widhiarti berpadu dengan nama-nama kawakan semacam Endro Wahyudi, Yusuf AH, Tsalis Aziz Alfarisi, Salamet Wahedi, Nasrulloh Habibi, atau AM Waraulia. Hal ini tentu membuktikan jika regenerasi sebenarnya tengah berjalan dalam ruang lingkup Komunitas Rabo Sore. Runtuh sudah sebuah mitos yang berkaitan dengan kesejarahan kampus Unesa sebagai habitat tumbuh-kembang KRS terhadap pergaulan kesusastraan di luar.  Ya, kampus sastra ini acap dipandang dan dihakimi regenerasi sastranya kurang ajeg di masa silam.
Setelah regenerasi dapat berjalan? Nampaknya masih ada satu hal yang masih menggelitik untuk dicermati. Ketahanan dan kekuatan untuk bersaing tidak hanya dengan sesama mereka yang berada di dalam KRS namun juga perpacuan dengan komunitas lain. Seperti teori yang berkali-kali ditahbiskan oleh Charles Darwin : seleksi alam. Para penyair dan cerpenis dalam antologi ini akan berhadapan dengan seleksi alam, baik dari dalam diri si penulis maupun terhadap pengaruh dari luar yang acapkali lebih sering menjadi alasan bagi seseorang untuk undur diri dari dunia kepenyairan.
Setidaknya dalam sebuah buku antologi semacam ini, akan ada satu dua penyair dan cerpenis yang terus melejit menapakkan kaki dan mendapatkan tempatnya dalam kancah sejarah kesusastraan Indonesia, sedangkan yang lain akan jalan di tempat, atau mundur secara perlahan sebab nafas yang dimiliki memang tak panjang untuk menghadapi keras dan terjalnya persaingan di dunia sastra mutakhir Indonesia.
Seperti yang pernah didengungkan oleh Nirwan Dewanto dalam acara sastra FSS 2007, bahwa ia, lebih tepatnya mengacu pada penyair, yang bertahan adalah “ia yang membunuh penyair, tepatnya lembaga kepenyairan, serta menyebarkan khazanah puisi yang layak diselami tanpa batas”, bukan sekadar “gejolak yang gampang mati, selaan kecil terhadap sejarah sastra hingga ia kehabisan tenaga.”
Menengok kembali , pertama, pada puisi dalam buku ini, saya cukup bahagia sebab karya-karya dalam buku ini cukup beragam. Hal ini mengingatkan saya akan pengantar Mardi Luhung dalam antologi Album Tanah Logam, yakni “dalam berproses, meski dalam satu komunitas yang kerap bersinggungan, mereka punya jalur dan pijakannya sendiri.” Tinggal bagaimana kelak para penyair dalam buku ini mau konsisten pada jalurnya atau malah secara naïf mengikuti arus besar perpuisian yang sedang menggelimangi kesusastraan Indonesia terkini.
Terus terang, dunia kepenyairan, sekali lagi dalam kata-kata Nirwan, tidak lebih dari dunia kepengerajinan bahasa. Ya, puisi memang hasil kerja kepengerajinan bahasa. Sebagaimana pernah diretas oleh Chairil Anwar, Sutardji Calzoum Bachri, atau Afrizal Malna yang secara ekstrem berani membuat dan menentukan jalannya sendiri dalam menghadapi bahasa.

Sekutip Kecenderungan : Teruntuk Puisi
Kiranya menarik menyikapi paparan yang pernah ditulis oleh Hasif Amini dalam membuka kumpulan Puisi Tak Pernah Pergi (Kompas, 2003), bahwa tradisi lirik dalam perpuisian Indonesia modern tetap bertahan dan berjalan, seolah tak lapuk dan tak lekang oleh musim yang berganti-ganti. Dalam lingkup lebih kecil, lingkup KRS, hal ini seolah dibenarkan dengan muncul dan dipredikatinya A Muttaqin sebagai penyair muda berbakat besar dengan kemampuan menulis lirik simbolis yang peka, lincah, segar dan memikat (Arif B Prasetyo, Rumah Pasir, 2008). Menengok generasi yang lebih muda, nama Umar Fauzi Ballah dan Ashif Hasanuddin juga muncul dengan pengucapan liris untuk meneguhkan eksistensinya di tengah ruang kepenyairan di Jawa Timur.
Sejumlah penyair dalam buku ini juga mencoba mengakrabi pengucapan liris, seperti puisi Jennita Diah yang mencoba dengan ucap lirik yang bersahaja. Meminjam bahasa Hasif Amini, puisi Jennita mencoba membaurkan antara subjek dan sekitar : Waktuku habis untukmu / Mestinya aku lahir sebagai danau / Yang menampung semua air matamu // Atau menjadi lautan / Cukup luas perahumu berlayar / Sedangkan aku // Hanya sulur air yang menunggu / Kembang kemuning beserta lembayung / Jatuh, mewarnaiku (Waktuku Habis Untukmu). Berbeda dengan kecenderungan yang diperlihatkan Muttaqin, simbolisme liris ala Jennita terasa lebih lambat dan ada semacam kesadaran memanunggalkan personalitas aku ke dalam simbol-simbol alam untuk menciptakan lecutan imaji yang segar. Cara yang beberapa tahun terakhir ditempuh kebanyakan penyair Indonesia terkini.
Alam rupanya masih menjadi bidang garapan yang sangat subur bagi sebagian besar penyair Indonesia. Apakah karena memang kultur kehidupan alam agraris yang melingkupi sebagian besar masyarakat Indonesia sehingga termanifestasikan dalam puisi? Puisi-puisi Elisa masih menggumuli alam sebagai bahan pijakan. Jangan Tanya mengapa anggrek-anggrek itu telah layu sebagian / Sebagian lagi masih mekar  tak sepadan / Membuai angin yang meliurkan aroma kematian / Pada lumbung bambu tempatku menyimpan sedikit getaran (Jangan Bertanya Lagi) sampai Ibu selalu memintaku untuk menanam jati pada musim kemarau / Agar rumahku teduh / Seteduh bumi memercikkan hujan disiang hari (Pesan dari Ibu). Personalitas pada alam juga tak kurang menggayuti puisi Ahmed. Namun dengan semacam melankolia tak berujung seperti dalam khazanah puisi-puisi Indonesia di bawah tahun 30-an semacam : daun mulai tak kerasan di ujung ranting / bergoyang lalu berucap salam / melambai sejenak lalu mampir / di beranda sungai; mengiba akan akhir yang indah // namun air terlalu bijaksana untuk menolong, / ia tambatkan daun di sisi limbah plastik manusia / bergelantungan dari ujung fajar hingga akhir senja (Hikayat Daun). Dengan melankoli ala Pujangga Baru, semoga puisi-puisi Ahmed tidak terjerembab dalam melodrama yang panjang.
Bersajak tentang alam pun tampak dalam puisi-puisi Tantira. Akan tetapi, Tantira mencoba bernafas panjang, meski di sana-sini imaji yang ditampilkan juga terlihat kedodoran : Semilir hijau rumput mengarahkan butiran-butiran rindu yang / terkeringkan. Sempat pula alis ini mengkerut menanyakan / kenyanaan yang berkali-kali terungkap, kegagalan kesekian kali. atau Rasakanlah begitu banyak reruntuhan sekam menarik kulitmu / dalam kukunya menyibakkan sedikit goresan tentang cerita / kegagalan burung sawah memangsa sarinya, menandakan / kemerahan pada kulitmu. Ingatlah luka itu pernah kau goreskan (Kan Kutinggalkan kau di sini dalam hiruk pikuk musim panen). Selain bermain-main dengan alam, puisi Tantira juga berbicara dan meracau mengenai masalah sosial. Semacam protes tapi dengan bahasa yang lebih santun daripada spanduk atau poster : menelusuri gerbong berbekal sapu lidi / bersaing  dengan segerombol / bukan untuk mimpi yang semalam / terjalin dengan liur / atau cita-cita yang telah tersusun / dengan seragam rapimu / tapi nilai kenyang buatku dan pemuda itu / berbeda denganmu (Kisahku Tak Panjang,). Jika terus membaca dan membuka diri terhadap khazanah puisi terkini, baik lokal maupun internasional, bukan tak mungkin Tantira akan menjadi penyair dengan nafas panjang dan masih akan terdengar sampai lima tahun ke depan.
Mencoba membaurkan fantasi, racauan, dan teriakan untuk menyikapi keadaan sosial sepertinya menjadi pilihan bagi Endro Wahyudi. Hanya saja, Endro memang ingin berteriak dengan sopan, tanpa harus menyinggung siapa yang harus ia teriaki. Puisi endro bisa jadi mungkin lebih menyerupai esai yang menyaru sebagai puisi, semisal : “ayah, di beranda tadi, saat matahari membelalakan warna cahaya keemasan. Aku melihat, / cengkerama dan pergumulan mereka dalam tubuhku. Terasa seperti ibu menyiramkan makna / cintanya dihatiku. Apakah semua itu ayah?” dan “ayah bolehkah aku meminum sari cinta dari mereka. Bukan aku dahaga. Tapi ku / menginginkannya. Ada yang aku harapkan: membawa cinta mereka, pada teman-teman mainku / di sekolah.kan kukabarkan selalu sebagai doa. Bukan doa-doa yang membeku seperti batu.atau / doadoa keras yang beringas.” (Monolog Cinta dari Anakku). Membaca larik yeng demikian, mau tidak mau menautkan ingatan kita pada era peralihan politik di mana batu dan tindakan keras menjadi sangat efektif untuk menyampaikan sesuatu.
Sentimentalisme ala masa remaja nampaknya menjadi hal yang tak terhindarkan dalam antologi ini. Masa remaja yang begitu singkat menciptakan bahasanya sendiri, bahasa melankolis picisan yang menggambarkan keinginan dan harapan akan sesuatu. Inilah masa ambang. Dan puisi Nisa bisa menggambarkan hal itu : Lelaki kecil berwajah tampan / Senyummu sangat kuhafal / meskipun / Tak ku tahu namamu / Tapi aku selalu setia / menjadi bayangmu (Lelaki Kecil). Juga puisi AM Waraulia : malam akan tetap kelam / noktah terus memerah / kisah akan selalu diasah // namun, malam akhirnya tenggelam / hingga kau kan terlelap / dalam (Ini Puisi Untuk Kekasihmu) dan puisi Riaz : senang / melihatmu merindukanku / senang / kaumenungguku / senang/ kautangisi tangisanku (Kau). Adakah yang salah jika puisi-puisi melankolis semacam itu ditulis? Tentu tidak. Hanya saja masa remaja adalah masa ambang yang pasti akan berlalu dan puisi-puisi semacam ini pasti akan mudah terlewati begitu saja tanpa benar-benar sempat mewariskan jejak panjang.
            Kembali pada mantra menjadi cara yang coba dilakukan oleh Yusuf AH untuk mencapai kesegaran bahasa. Meski tidak seekstrem yang dilakukan oleh Sutardji, Yusuf menembaki imaji-imaji liar yang berseliweran dan membingkainya dalam khazanah mantra. Puisinya juga masih mengagungkan kelirisan dan realitas dunia agraris. Aku tumbuh dari pelir anjing, pelir kambing, pelir monyet, pelir / musang, pelir tikus yang menabuh suara pelog hingga ke pelosok / gelagah. Lalu Mar mati / Kakang kawah / Adi ari-ari / Darah dan / Pusar // Ku bakar dupa seribu aroma melepuh angsana / Ku pilin seribu angsoka menceruk raksa / Ku angon sejuta domba meneluh mantra / Ku anyam sekepal rindu menyilet labu (Astaka Carang). Puisi-puisi Yusuf juga menawarkan kerumitan dan kekhusukan suasana magis nan sufistis yang mendayu-dayu, walau beberapa kali ia terjebak dalam kabut dan kegelapan bahasa : Oi, anak-anak gerimis bernyanyilah dengan tambormu, petiklah / gitarmu, tiuplah serulingmu. Antarkan kami ke negeri labu. // Oi, anak-anak gerimis teteskanlah liur rindumu, basahilah punggung- / punggung kami dengan airmatamu, kecuplah mulut-mulut kami / dengan mulutmu. Sejukkan kami dengan // nyanyian-nyanyian peri. Masuklah ke bilik rongga rindu kami / agar tak lagi ada mimpi yang selalu mengiri rona melati / di puri kasturi. (Pengembara Lumut).
            Bertutur dengan gaya lugas menjadi pilihan bagi puisi-puisi Wulan. Bisa jadi puisi Wulan ingin bertutur dengan tatapan mata yang sangat lugu semacam : Begini ni jika semua lelaki dikatakan lata oleh para wanita / pemuja pria. Semua dianggap sama derajatnya. Bisa untuk / gelitikan, pajangan, bahkan iuran arisan (Lelaki Rumpun Kelu). Di sisi lain, puisi Wulan juga merayakan kerumitan dunia keseharian nan jauh di sini. Subjek-subjek dalam puisi Wulan serupa pendongeng yang bercerita mengenai kekacauan dengan bahasa yang sangat pelan : Kini aku berani berkata, “Inilah aku, yang mulai tumbuh / dengan segala cium bumiku, dengan kesederhanaan, / dengan keikhlasan di atas negeri yang selalu dibantai sana-sini. / Namun aku tetap ingin menjadi penguhuni, di sini”. (Jenjam). Ketika kali awal membaca puisi-puisi Wulan, ada semacam harapan jika penyair ini memiliki kemampuan untuk hidup lebih panjang dalam ranah kepenyairan.
            Bermain-main dengan bahasa tampaknya menjadi keasyikan tersendiri bagi Aziz. Kendatipun masih disertai kesembronoan di sana-sini, Aziz menyadari jika puisi memang tak lebih dari permainan bahasa. Sekali lagi, Aziz bermain-main dengan bahasa meski main-main ala Aziz belumlah sampai pada tingkat kepengerajinan. Apabila Aziz berani membuka khazanah dan menjelajah sampai kutub-kutub terdalam, bukan tak mungkin kelak pengucapan puisi Aziz dapat melebihi : Jantung bumi bergetar ketika / si jantan menepuk pelananya / ke perut bumi (Tukang Kusir) atau Butir-butir langit / mengusap empedu // Sedingin sunyi / melukis tentang / kisah di bibir pantai (Pesan untuk Bulan).
            Terakhir, dunia politik, kekacauan, dan orang-orang tertindas ala Habibi mencoba teguh sebagai seorang pemprotes yang tak puas akan keadaan di sekitar. Sebagaimana orang kecil yang tak berdaya, Habibi cukup berpuas diri hanya dengan meledek atau sebagai pencerita yang sama sekali tidak memberi solusi maupun jalan keluar. Dan Habibi hanya Berlindung di rumah retak / tinggal sejenak di pijak / menetap resah, turun dari hingga / detak nadir mulai bergejolak. (Rumah Retak) atau tersudut di kota biru / matanya tak sebatas pandang lepas / kemerdekaan dan nyanyiannya // melayang // di medan pertempuran (Pelataran Sabil). Puisi-puisinya memang sekadar menadarusi kondisi timpang dan tidak ingin terjebak sebagai hero atau peneriak lantang ala Rendra dan Wiji Thukul.

Merayakan Kependekan Ruang : Cerpen
Membicarakan buku ini tentu tak lengkap jika tidak menyentuh empat buah cerita pendek yang turut terpampang di dalamnya. Mengapa? Buku ini adalah satu kumpulan dan meski pemuatan cerpen dan puisi dalam satu buku sekaligus sangat jarang dilakukan dan terasa aneh adanya, tetapi sesungguhnya beberapa buku sudah mulai mengakrabi format semacam ini. Ya, selain lebih menghemat ruang, tampilan semacam ini juga menyegarkan pandangan pembaca. Sesudah berlelah-lelah tenggelam dalam rentetan metafora dan gerumbulan karnaval imaji, pembaca diajak bertamasya menafakuri segala sesuatu yang terasa sangat dekat : dunia yang hanya dipisahkan beberapa millimeter dari kita.
Buku ini menyertakan empat cerpen karya empat cerpenis berbakat dari Komunitas Rabo Sore.  Sebuah hal yang benar-benar baik untuk perjalanan KRS ke depan, mengingat komunitas ini lebih dikenal sebagai “sarang” penyair. Semoga kelak ke depan, jumlah cerpenis dalam KRS akan meningkat, tak hanya seikat semacam ini.
Membaca cerpen tampaknya kita tidak akan beranjak dari pertentangan menggauli realitas sehari-hari dan pergulatan untuk menaklukkannya. Kependekan cerita dan keterbatasan ruang (terutama jika kita pertautkan dengan mainstream percerpenan saat ini, sastra Koran) menuntut cerpenis untuk meringkus dunia terkadang, dalam bahasa Nirwan Dewanto, memaksakan akhir yang serba kebetulan.
Dan nampaknya, para cerpenis dalam buku ini masih mencintai pemaksaan semacam ini. Tanpa harus berniat menggugat apa yang sudah dilakukan oleh para cerpenis, sebuah cerita akan lebih menarik apabila tokoh-tokoh dalam cerpen itu bermain dengan sendirinya dan mengakhiri cerita dengan wajar.
Satu hal lagi bila kita membaca empat cerpen dalam kumpulan ini, realitas nampaknya menjadi dasar mutlak yang diamini oleh para cerpenis. Cerita-cerita dalam buku ini, sesungguhnya, berpijak dari kenyataan sehari-hari dan mencoba melakukan semacam main-main terhadap realitas yang mereka lihat dan hadapi. Apabila dalam kenyataan mereka tidak mampu memberikan sesuatu, cerpen memberikan ruang bagi mereka untuk mengubah dunia sekaligus memenangkan hal yang muskil mereka menangkan.
Eksplorasi jalan cerita yang ditampilkan juga dalam tataran yang biasa-biasa saja. Tidak ada pengolahan unsur-unsur pembangun prosa secara ekstrem. Kita tidak akan menemukan hal-hal fantastis seperti halnya kita membaca cerpen-cerpen Triyanto Triwikromo yang terkini. Kita tidak akan menjumpai bentukan-bentukan yang mencengangkan ala Benny Arnas atau detil ganjil semacam Agus Noor. Akan tetapi tak mengapa. Bermain-main dengan realisme masih menjadi sebuah kebajikan tersendiri. Hal ini tentu sesuai dengan kodrat bahwa sastra (baca cerpen) tidak tercipta dari kekosongan.
Mari kita beranjak menengok satu per satu cerpen dalam buku ini. Kita mulai dari cerpen Cindy FS. Sebuah cerita yang sebenarnya biasa, perihal keluarga yang terus ditimpa kemalangan. Cerita khas khazanah sastra lama. Namun yang membuat terasa berbeda adalah ia menampilkan sosok rumah sebagai pencerita, pendongeng yang mahatahu mengenai segala gerak-gerik dan kasak-kusuk yang terjadi di dalam rumah. Jika kita sering mendengar kata-kata indah tentang rumah : rumahku istanaku, maka seharusnya berlaku pula antitesis semacam : rumahku penjaraku atau rumahku nerakaku. Sebagai seorang pendongeng, Cindy bertindak mahatahu dengan menceritakan alur demi alur. Akan sangat nikmat jika ada sedikit kejutan dalam cerita ini.
Selanjutnya adalah cerita pingpong ala R Amalia, cerita yang bergerak antara deskripsi dan narasi, antara harapan dan realitas. Cerita tentang sebuah kota (mungkin) masa depan dan sedikit kondisi kekinian. Mungkin sebuah fiksi ilmiah mini ingin ditulis oleh Amalia. Suatu harapan yang mungkin akan dapat terjadi di masa depan, seperti Borges yang menulis cerita tentang internet jauh sebelum mesin itu diciptakan. Permainan tik-tak ala Amalia ini berlangsung dengan baik sampai terjerembab pada akhir yang sedikit gelap, di mana pembaca awam yang sudah terbawa arus permainan alur ala Amalia ini mungkin akan memberikan vonis mbulet.
Cerita yang sedikit wajar terjadi pada cerpen Salamet Wahedi. Cerita tentang sebuah keluarga yang menjadi sangat terobsesi pada sebuah benda, hingga akhirnya benda itu bertransformasi menjadi musuh yang harus disingkiri, dibuang jauh-jauh dari kehidupan keluarga. Kewajaran yang sejak awal dibangun oleh Salamet lambat laun berubah menjadi semacam absurditas, di mana obsesi tidak wajar terhadap sebuah benda lantas menjelma skizofernia. Dalam hal ini, Salamet mencoba menyelamatkan cerita dengan tidak tunduk sepenuhnya terhadap realisme.
Terakhir, dunia kritik sosial yang ingin diteriakkan oleh Widhiarti. Dengan mengambil setting cerita maraknya ledakan tabung elpiji, Widhiarti seolah ingin meledek kebijakan pemerintah. Sebuah perlawanan khas wong cilik, kata Daniel Tito, jika tidak mampu mengejek cukup memukul saja. Dan percayalah, tugas cerpen adalah semacam itu, bermain-main di antara realitas dan memenangkan (atau malah membunuh diri sendiri). Cerpen Widhiarti mungkin lebih mengena sebagai sebuah esai atau opini tentang kenyataan. Singkatnya, inilah esai yang bertopeng cerpen. 

Epilog
Apakah para penyair dan cerpenis dalam buku ini sanggup meninggalkan gema panjang seperti halnya A Muttaqin atau bergerak perlahan, menapak ke puncak ala Umar Fauzi Ballah dan Ashif Hasanuddin? Kita tak akan pernah tahu. Yang pasti, para penyair dan cerpenis ini masih asyik merayakan jalan yang mereka tempuh dan mencoba meninggalkan tilas bagi para penelusur dunia kepenulisan selanjutnya. Wallahu a’lam bissawab. 

* Dody Kristianto, anggota Komunitas Rabo Sore dan penikmat Sastra Alienasi Rumput Berbasis Independen (SARBI).
Baca Selanjutnya