Langsung ke konten utama

Postingan

Puisi-puisi Ashif Hasanuddin

PINTU
Dari bara yang jadikan lelaki setengah merdeka aku datang mengetuk palung dalammu.
Dengan telinga yang serupa radar api aku mencarimu, meniti sayap dan gerigi.
Seperti jengkrik kususun segala bunyi, agar rautmu yang pasi tumbuh rerumbai, semacam puisi atau bebunga padi,
Yang menuju putih, seputih jalan yang diberkati di saat dedaun bersih oleh sisa embun pagi, oleh mimpi.
Lia, adakah waktu yang lebih indah dari bunyi-bunyian ini?
Bunyi yang kucari hingga ke akar daun
Postingan terbaru

Memasuki Ruangan Kekasih

Oleh Dody Kristianto*
Selamat malam Tuan. Pertama-tama, saya baru saja terhanyut oleh ketenangan yang disajikan oleh Sapardi Djoko Damono dalam kumpulan puisinya, Kolam. Ya, buku terbaru dari salah satu empu puisi di Indonesia ini tidak lain sudah memberikan sedikit pelajaran pada saya, bagaimana sesuatu yang sederhana itu, betapapun sederhananya, mengandung kepuitisan tertentu. (Ah, semoga ini malam saya tak sedang melantur). Lantas saya harus berhadapan dengan puisi-puisi dari seseorang “aneh” bernama Ferdi Afrar. Seseorang yang bagi saya “aneh”, sebab kami dipertemukan oleh ruang global bernama internet. Pada jagat yang mahaluas ini, tiba-tiba saya bertemu dengan Ferdi yang berasal dari kota yang sama dengan saya dan memiliki kegemaran akan hal yang serupa : puisi. Kegemaran akan hal serupa inilah yang harus membuat saya untuk mau tak mau memasuki puisi-puisi Ferdi Afrar, kadang dengan cara yang teramat sopan. Kadang pula saya memasukinya seperti halnya seorang pencuri yang mengeda…

Iklan Tokopedia dan Bukalapak saya

Bagi yang gemar diecast, monggo kunjungi toko pun lapak online saya. Ada beberapa diecast kolpri yang saya jual. Monggo diintip sebentar Om, hehehe....


Manifesto Surrealisme

Cerpen Eko Darmoko
            Aku sedang bingung. Biasanya, kalau sedang bingung, untuk menawarkannya, aku selalu menumpahkannya dengan cara membunuh. Apa saja bisa kubunuh; kadang kubunuh seorang filsuf, kadang sopir angkot, kadang penari seksi hotel bintang lima, bahkan komet yang melintas di kepalaku pernah kubunuh dengan pistol air. Namun, tak jarang dari sesuatu yang kubunuh itu di kemudian hari hidup lagi. Dan hal inilah yang membuatku makin bingung.             Aku memelihara sepasang ikan cupang. Yang cowok kuberi nama Socrates dan yang cewek kuberi nama Miyabi. Mereka sangat akur dan romantis. Kadang, Socrates dengan kejantanannya merayu Miyabi dengan secarik sajak rindu. “Ikanku, bawa aku ke negerimu! Aku bosan dengan Dewa-Dewi Yunani; kerjaannya hanya bikin undangan massal. Beri aku anak dari rahimmu! Aku rindu dengan pantatmu.” Begitu rayu Socrates kepada Miyabi. “Ah, Kang Mas bisanya cuma merayu. Sekali-s…

Puisi-puisi Vinca Diah Kathartika Pasaribu

GEMINGMU ITU
Begitu rindu kukecup belantara di dahimu
Demikian rindu hingga rontok relung-relung cintaku
Gemingmu itu sayat belati, mata bambu yang memahat luka terabadi
Begitu rindu kupagut desis syahdu bibirmu, dan kumangsa
musim semi yang mengitari hasratmu
Demikian rindu hingga beku bait sajakku dalam sekelebat gigil maut
Mengorek sumsum
Oh, gemingmu itu…
abjad pasi yang melayang-layang di lembar gersang ragawi.
19-12-2012
SETANGKAI
Aku setangkai sunyi yang mengamini mekar janji
Di muara kelam malam
Debu gemintang berjajar pada lusuh kerinduan
Rindu nyanyi diri
Rindu terang hati
Rindu yang membuncah laksana mata samudera
Aku setangkai perih yang tiap malam turut berbaris
Memikul tandu-tandu luka, menghantarnya ke larut doa
Satu per satu anyir yang menganga disemayamkan dalam keranda raga
Di telapak tanganku, dupa kutuk menyala
Getir aroma kepasrahan
Pasrah terbakar diri
Pasrah tertawan hati.
20-12-2012
RUANG ANTAH KATEDRAL
Jemari mati sang jelata, terhuyung menari
Merayap, mengorek jantung…

Sastra (di) Sekolah dan Harapannya

Oleh Umar Fauzi Ballah*
            Beberapa tahun yang lalu saya menghadiri sebuah acara kesusastraan yang diadakan Ponpes Annuqayah, Guluk-Guluk binaan Kiai M Faizi. Dalam sambutan atas terbitnya antologi puisi karya santri-santri Annuqayah tersebut, M Faizi menyampaikan sebuah fenomena psikogeorgafis masyarakat Madura. M Faizi mengatakan bahwa orang Madura perlu bukti. Kalau sekadar ngomong, orang-orang akan sulit untuk meniru. Karena itu, dalam rangka memotivasi santrinya agar memunyai kreativitas dalam hal menulis, M Faizi memberikan teladan bahwa menerbitkan buku adalah perkara mudah. Dari situlah segalanya bermula dan tunas sastra terus bermunculan.             Tunas sastra sampai saat ini terus tumbuh di Madura, khususnya dari Sumenep. Pondok pesantren memiliki andil besar dalam keberlangsungannya, selain tumbuh dari kantong-kantong komunitas sastra di kampus-kampus. Setidaknya, tercatat dua pondok pesantren ya…

Menilik Kembali Sudut Pandang Anak-anak dalam Puisi

Oleh Dody Kristianto*
Membaca kembali “distribusi” puisi-puisi Indonesia terkini, sebagian besar publik sastra bisa jadi meyakini bahwa puisi-puisi Indonesia tersiar melalui tiga jalur besar yakni penyiaran melalui media massa cetak, penyiaran melalui media online maupun jejaring sosial, serta melalui pergaulan antarkomunitas. Penyiaran puisi di media cetak pun masih dianggap sebagai tolok ukur kemampuan seorang penyair atau calon penyair. Sebanyak apa pun puisi yang disiarkan di media online, jejaring sosial, maupun pada pertemuan antarkomunitas, kualitas dan kapabilitas “kepenyairan” seseorang masih diragukan. Tentu hal tersebut tidak sepenuhnya benar. Sekitar tahun 2012 lalu, ada ajang sastra Forum Penyair Internasional-Indonesia: What is Poetry yang dihelat di empat kota: Surabaya, Malang, Yogyakarta, dan Magelang. Dari perhelatan sastra internasional tersebut, kita membaca nama yang asing dalam dunia perpuisian di Indonesia, taruhlah nama-nama seperti Stephanie Mamonto, Gracia Asri…