Langsung ke konten utama

Postingan

MEMBACA JEJAK PERPUISIAN MALANG

W Haryanto /1/ Puisi adalah jejak sejarah, tapi bukan anak kandung sejarah. Puisi adalah tindak individual—atau dalam pengertian Muh. Zuhri, tingkat kebenarannya bersifat subyektif, sekalipun bisa diuji secara ilmiah. Sekalipun, bertendensi individual, ranah perpusian juga ditentukan pada organisasi makna di luar dirinya. Inilah harmoni puisi. Lama, setelah (alm) Hazim Amir dan Wahyu Prasetya, saya merasa asing dengan sebutan ‘puisi Malang’. Bukan sebatas konteks karya, tapi juga mereka yang menyebut dirinya—sebagai penyair Malang (dalam komunikasi di Jawa Timur), dan Malang hanya memiliki prosais Ratna Indraswari Ibrahim, juga hanya punya beberapa lembar ‘teoritikus’. Di akhir tahun 90an, Nanang Suryadi dan Kuswinarto merintis komunikasi dengan atmosfir Jawa Timur lewat gerakan puisi internet. Gerakan ini, dalam terawangan saya—adalah antiklimaks dari dinamika perpuisian Jawa Timur, seiring klaim yang menyatakan bahwa ‘puisi internet’ adalah keputusasaan para penyair yang gagal bert...

Tanggapan atas Polemik Cerpen Perempuan Tua dalam Rashomon

oleh Dadang Ari Murtono pada 15 Desember 2010 jam 12:28 Perempuan Tua Membaca Rashomon Sungguh, saya tak ingin membuat tulisan ini sebenarnya meski saya tahu kalau polemik berkaitan dengan hal ini, berkaitan dengan cerpen saya Perempuan Tua dalam Rashomon yang terbit pertama kali di harian Lampung Post hari minggu tanggal 5 Desember 2010 kemarin terus berkembang lewat situs jejaring sosil facebook (dan barangkali juga melalui beberapa media massa cetak). Saya ingin membiarkannya saja sebenarnya. Selain karena saya jarang menggunakan situs jejaring sosial itu, alasan lain yang lebih penting adalah karena saya sesungguhnya telah pula menjelaskan permasalahan ini dalam cerpen itu sendiri dan dalam catatan kecil yang menyertainya. Namun desakan beberapa kawan yang mengikuti polemik ini dari mulai mencuat hingga hari ketika tulisan ini saya buat, membuat saya tak kuasa terus mengelak. Saya tidak hendak menjawab dan menjelaskan satu per satu tuduhan plagiatisme yang dialamatkan beberapa ka...

Plagiat Rashomon

oleh Sungging Raga saya di sini cuma melanjutkan bukti2 plagiat Dadang Ari Murtono yang dimuat Harian Lampung Post terhadap karya Akutagawa yg berjudul Rashomon, saya sendiri belum sempat membuat esai, tapi sebagai soft opening, saya meminta teman dekat saya yg kebetulan juga teman dekat Dadang untuk bertanya via sms, dan Dadang mengirimkan sms balasan kepada teman dekat saya itu, lalu teman saya ini lantas menerjemahkan sms Dadang yg berbahasa Jawa kedalam bahasa Indonesia kepada saya yg isinya seperti ini: "maaf ya, aku gak peduli orang bilang apa. menyelesaikan? gimana? apa aku harus datang keorang orang seluruh indonesia satu persatu buat jelasin masalahnya? lha masalahnya apa? aku gak merasa punya masalah. terserah orang mau bilang apa. lha redakturnya aja nyantai kok, gak anggap plagiat kok. ya memang aku diam soalnya aku gak merasa ada apa-apa." berikut ini sedikit bukti2nya antara Cerpen Dadang di Lampung Post & buku Akutagawa yg diterbitkan KPG oya, tern...

puisi W Haryanto pada Temu Sastra Jatim 2009

MANIFESTO ILLUSIONISME matahari ke batas bukit, kita bertemu, serangga memimpikan kita bercak-bercak di kota tua: nyanyi itu… (demikianlah kumbang-kumbang disebut, pergi memacu, bayangan kita membungkuk, tubuh dan diri cuma tatapan mata, yang membujuk ular, —pengetahuan yang sedih, bila kita bergegas dengan melukis bahasa burung cinta yang gusar, melengkung, kenangan yang meneteskan anjing anjing—ke arah mendung bersama biduk yang sakit, teluk saudagar parsi —) dalam bisu batu Raffah bertulis senada hantu mainkan seruling, mengubah warna menjebak pikiran —jam otak berdetak gelas bergeser lalu pecah: sunyi seperti liris kita mencicip nyeri daun, bermimpi ke kulit pohon, bumi yang gaib yang penuh dendam, KEBENARAN CUMA BAYANGAN, BURUNG DATANG DAN PERGI, SIHIR YANG KECUT YANG BERSURAT KE TAHUN LEWAT, seindah tubu...

Aokigahara

Oleh Apendi Tahun demi tahun semakin banyak saja orang Jepang yang bunuh diri di hutan ini. Aokigahara. Tempat favorit bagi mereka yang ingin bunuh diri. Yah… aku tidak akan mengeluh, karena bagaimanapun juga, semakin banyak mereka yang mati berarti pendapatanku semakin bertambah. Orang Jepang menyebut hutan ini sebagai ”hutan bunuh diri” sehingga mau tak mau tak jarang orang berpersepsi keliru mengenai orang-orang yang datang ke hutan ini. Aku datang ke sini bukan sebagai turis entah untuk menikmati pemandangan gunung Fuji di sebelah barat ataupun suasana mistis yang hanya dimiliki oleh tempat di mana ratusan bahkan ribuan nyawa melayang di lokasi yang sama. Aku datang untuk mencari nafkah. Untuk bertahan hidup. Seperti yang telah kuamati selama ini, malam-malam pada perayaan seperti tahun baru inilah yang biasanya digunakan oleh sebagian orang Jepang untuk mengakhiri nyawanya sendiri. Di tengah tawa dan pesta penduduknya, ada segelintir orang yang mengasingkan diri dan merasa bah...

Saya (bangga) Orang Madura *

Oleh : Salamet Wahedi ** Syahdan, lelaki itu gugup dan gemetar menginjakkan kakinya di tanah luar tumpah darahnya. Tak hanya keasingan yang menyergap. Seribu bayangan berkelebat. Mereka menyeringaikan gigi tajam. Mereka membisikkan doa dan mantra, serta kutukan. Mereka yang bernama domba-domba kemanusiaan dan kebudayaan. Bertahun, lelaki itu terkurung dalam seringai domba kebudayaan. Sekadar menyebut nama, apalagi tanah kelahiran, dia begitu gemetaran. Dirinya takut dihujat. Dijauhi. Dipandang sinis. Dan yang paling ditakutinya, dirinya diolok-olok: wuih, para pembunuh. Lelaki itu lahir di abad elektronik yang berguncang. Dia sendiri belum paham kenapa kelebat bayangan itu mencekam. Mereka seperti bayang-bayang dirinya. Seperti siaran televisi yang mengeksodus ke sel-sel rumah. Sel-sel otak. Lelaki itu tumbuh tanpa ingatan. Kini, dia mesti mencari dan mengabarkannya. *** Suatu malam dia melenguh. Di tangannya ‘mata blater’ memandangnya. Matanya kikuk. Berulang dia pastikan: cerpen...

Togog

Togog adalah tokoh wayang yang digunakan pada lakon apapun juga di pihak raksasa. Ia sebagai pelopor petunjuk jalan pada waktu raksasa yang diikutinya berjalan ke negeri lain. Pengetahuan Togog dalam hal ini, karena ia menjelajah banyak negeri dengan menghambakan dirinya, dan sebentar kemudian pindah pada majikan yang lain hingga tak mempunyai kesetiaan. Karena itu kelakuan Togog sering diumpamakan pada seseorang yang tidak setia pada pekerjaannya dan sering berganti majikan. Ia bersahabat dengan Semar dan terhitung lebih tua Togog daripada Semar, maka Semar memanggil Togog dengan sebutan Kang Togok. Di mana Togog menghamba tentu dipercaya oleh sang majikan untuk memerintah bala tentara yang akan berangkat ke negeri lain. Waktu ia mendapat perintah untuk memberangkatkan bala tentara tersebut, dalang akan mengucapkan kata-kata sebagai berikut: Tersebutlah lurah Wijayamantri (Togog) telah tiba di tempat para raksasa berkumpul, memerintahkan kepada Klek-engklek Balung atandak untuk bersia...