Langsung ke konten utama

Postingan

KETIKA INDONESIA MEMASUKI ABAD BARU*)

MESIN cetak masuk ke Hindia Belanda untuk pertama kali pada abad ke-17 dibawa VOC. Dan penerbitan pers yang pertama adalah Bataviasche Nouvelles yang terbit pada Agustus 1744, di masa Gubernur Jenderal van Imhoff.[1] Sejak itu, di tanah Hindia Belanda telah terbit sejumlah penerbitan pers yang dikelola orang Belanda.[2] Tentang isi penerbitan Belanda itu, seorang pengamat, melukiskan, "..pada mulanya pers terbit sebagai bagian usaha orang Belanda dan kemudian menjadi pembawa kepentingan perusahaan perkebunan dan industri minyak. Isinya belumlah mencerminkan persoalan-persoalan politik masa itu, karena memang sejak semula pemerintah Hindia Belanda mengatur berita-berita yang tidak berbahaya bagi pemerintah sendiri. Pers Belanda sendiri sejak semula merupakan 'pers resmi', karena isinya yang harus disetujui pemerintah. Baru kemudian ada penerbitan pers yang dapat digolongkan dalam kelompok 'pers tidak resmi'. "[3] Pada akhir abad ke-19 itu pula, mul...

Surabaya Abaikan Publik Seni

Reporter : Ribut Wijoto Surabaya (beritajatim.com) – Sebagai metropolitan, Surabaya belum hadir dalam citranya sebagai kota seni. Sebaliknya, Surabaya cenderung mengabaikan publik seni. Surabaya belum mampu memberikan sebuah pelayanan berstandar bagi masyarakat yang membutuhkan sentuhan dunia artistik. Demikian diungkapkan oleh pemerhati seni, Imam Muhtarom, ketika berbincang dengan beritajatim.com , Sabtu (9/4/2011). “Berbeda dengan Yogyakarta, Jakarta, maupun Bandung. Di sana, masyarakat lebih mendapat pelayanan seni yang berstandar. Di Surabaya, infrastruktur itu belum ada. Bahkan, Surabaya cenderung mengabaikannya,” kata penulis buku prosa Rumah yang Tampak Biru oleh Cahaya Bulan ini. Dipaparkannya, salah satu pelayanan terhadap publik seni ditandai dengan adanya kegiatan yang terjadwal secara ajek. “Misalkan sebulan sekali, ada pentas drama di Taman Budaya Jawa Timur atau di kompleks Balai P...

Mbah Danu

Cerpen Nugroho Notosusanto Wajahnya kasar-kasar seperti tengkorak, kulitnya liat seperti belulang, pipinya selalu menonjol oleh susur tembakau yang ada dalam mulutnya, jalannya tegak seperti seorang maharani yang angkuh. Di Rembang di sekitar tahun tiga puluhan ia lebih terkenal daripada pendeta Osborn pada pertengahan tahun 1954 di Jakarta karena prestasinya menyembuhkan orang-orang sakit secara gaib. Ditinjau dari sudut tertentu cara pengobatan Mbah Danu adalah rasional. Titik pangkalnya adalah suatu anggapan yang logis. Mbah Danu menegaskan, bahwa orang sakit itu "didiami" oleh roh-roh jahat; karena itu cara satu-satunya untuk menyembuhkan adalah dengan menghalaukan makhluk yang merugikan kesehatan itu. Si Nah, gadis pelayan pada keluarga Pak Jaksa (pensiun) telah sebulan sakit demam. Keadaannya makin lama makin payah. Matanya kelihatan putihnya saja, mulutnya berbuih dan ia mengeluarkan bunyi-bunyi binatang, kadang-kadang meringkik seperti kuda, kadang-k...

Derabat

Cerpen Budi Darma Di desa saya ada seorang pemburu bernama Matropik. Sebenarnya dia bukan penduduk asli. Dia pendatang entah dari mana, dan dia masuk karena di tempat-tempat lain dia sudah tidak mungkin berburu, dan semua sudah mati di tangan dia Sekarang, di desa saya, dia sudah mulai gelisah. Segala macam binatang sudah hampir punah. Dan kami, penduduk asli, dalam hati mengharap ia agar dia segera enyah. Memang, sebenarnya , semenjak dia datang, kami sudah membenci dia. Kami membenci dia bukan karena kami adalah orang-orang yang tidak baik, tapi karena dia selalu menciptakan suasana yang tidak enak. Perilaku dia sangat kejam Dalam berburu, dia tidak sekadar berusaha membunuh, namun menyiksa sebelum akhirnya membunuh. Maka, begitu banyak binatang telah menderita berkepanjangan, sebelum akirnya dia habiskan dengan kejam. Cara dia makan juga benar-benar rakus. Bukan hanya itu. Dia juga suka mabuk-mabukan. Apabila dia sudah mabuk, maka dia menciptakan suasana yang benar-b...

Botol Kubur

Cerpen M Arman AZ Jangan petuahi kami perihal amal dan dosa. Usah pula berbuih ludah mendongengkan elok surga dan bengis neraka. Kelaparan lebih mengerikan dari kematian. Jika mati sudah ketetapan, lapar adalah bagian dari kekalahan. Kami pasrah dijemput maut kapan saja, tapi kami enggan mati dengan perut kosong. Maka biarkanlah botol-botol yang mereka tikam ke tanah itu menjadi jalan rezeki kami. Kuingat kali pertama mencari botol di kuburan. Angin yang membentur bulu tengkuk terasa lebih dingin dari biasanya. Gugup campur cemas, bergetar jemariku saat menggenggam dan mencabut pantat botol dari pucuk makam. Sekilas kubaca nama, tanggal lahir dan tanggal kematian yang tertera dengan cat hitam di kayu nisan. Antara bergumam-berbisik, kuminta maaf pada pemiliknya yang sedang tidur di bawah sana. Malamnya mataku sulit terpejam. Rusuh hati membayangkan arwah pemilik botol menyelinap masuk ke dalam mimpi, menyumpahserapahiku yang lancang mencabut botol dan menyuruhku mengembal...

KIAT MENEMBUS RUBRIK SASTRA

Oleh Ahmadun Yosi Herfanda Sudah diakui bahwa rubrik sastra di surat kabar dewasa ini merupakan media yang paling strategis untuk pemasyarakat sastra. Tidak hanya pemasyarakatan karya, tapi juga sosialisasi ide dan event kesastraan. Karena itu, pemuatan karya di rubrik sastra surat kabar menjadi idaman hampir semua pengarang. Namun, bagi para penulis muda, terutama pemula, menembus “gawang” rubrik sastra surat kabat tidaklah mudah. Ada yang sudah puluhan kali mengirim karya ke surat kabar, tapi tidak kunjung dimuat, lantas putus asa. Ada juga yang baru beberapa kali mengirim, lalu dimuat, dan makin bersemangat. Ada juga yang tidak kenal putus asa, seratus kali lebih mengirim karya, dan akhirnya “tembus” (dimuat) juga. Ada beberapa faktor penyebab suatu karya sastra, khususnya cerpen, ditolak oleh redaktur rubrik sastra suatu surat kabar: Pertama , kualitasnya buruk atau di bawah standar estetik dan kualitatif yang dipatok oleh redaktur rubrik sastra bersangkutan. Tiap...