Langsung ke konten utama

Postingan

Puisi-puisi Gurih Dody Kristianto

Secarik Kertas dan Kalimat Puisi Secarik kertas dan kalimat puisi di atasnya terbubuh di antara sekian kekacauan dan perlintasan bunyi panjang Sedang di luar, hujan logam menggasang mencipta beberapa titik pertikaian, beberapa bimbang yang mencetak jejak redam Sementara, kalimat-kalimat mengalun, satu dua, sisanya tanggal yang tak mampu kuingat lagi. Seperti mimpi sebuah puisi untuk sepenggal mlam dan padam. Secarik kertas dan kalimat puisi di atasnya, aku rasakan remang berenang setelah seratus pertanyaan. 2008 Pengantin Diam di dalam kamar, tiba-tiba kita menjadi penari yang ingin terbang ke kayangan melepas persetubuhan, kenangan juga seluruh tatap penghabisan ada jendela, waktu berima yang membawa kita membiarkan angin membungkus tubuh, mimpi dan segenap perjalanan menuju utara sebuah berita mengubah kita lebih kekanakan seperti sekian tahun terpenggal, kita adalah penyusun kastil pasir dan sejumput isyarat dari ombak ...

abstrak skripsi

ABSTRAK Judul : Konflik Sosial Tokoh Sobrat dalam Naskah Drama Sobrat karya Arthur S. Nalan Nama : Dody Kristianto NRM : 042144030 Jurusan : Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas : Bahasa dan Seni Nama Lembaga : Universitas Negeri Surabaya Pembimbing : Drs. Mohamad Najid, M. Hum Kata Kunci : konflik sosial, tokoh Sobrat Konflik adalah salah satu unsur pembangun karya sastra. Dalam kerangka hubungan sosial, konflik adalah salah satu bagian pembangunnya. Naskah drama Sobrat juga mengandung konflik sebagai salah satu unsur pembangun karya sastra. Sobrat sebagai salah satu tokoh tentu berhadapan dengan konflik karena frekuensi kemunculan dan persinggungannya dengan tokoh lain. Tujuan penelitian ini adalah (1) mendeskripsikan konflik sosial yang dialami oleh tokoh Sobrat, (2) mendeskripsikan penyebab konflik sosial yan...

Pengumuman Lomba 2009

Radar Bali (Jawa Pos Group) bekerja sama dengan Komunitas Sahaja menggelar apresiasi kebahasaaan dan kesusastraan bertaraf nasional dan provinsi Bali bertajuk Radar Bali Literary Award 2009, mulai Januari hingga April 2009. Memperebutkan piala Gubernur Bali . Program kegiatan itu mengangkat tema “Perubahan, Kemanusiaan dan Lingkungan”, meliputi : 1. Lomba Cipta Puisi tingkat Nasional Hari, tanggal : Selasa, 6 Januari 2009 – Minggu, 22 Februari 2009 2. Lomba Baca Puisi Kategori SMP dan Umum (SMA, mahasiswa, dan masyarakat umum) se- Bali Hari, tanggal : Senin – Rabu , 13 - 15 April 2009 Tempat : Art Centre Denpasar 3. Lomba Dramatisasi Puisi Kategori SMP dan Umum se- Bali (Pelajar SMA, mahasiswa dan masyarakat umum) Hari, tanggal : Kamis, 16 April 2009 Tempat : Wantilan Taman Budaya Denpasar 4. Puncak Acara Radar Bali Literary Award 2008 Hari,tanggal : Sabtu, 25 April 2009 Tempat : Art Centre Denpasar Kegiatan ini bertujuan merangsang minat para remaja agar lebih kreatif m...

Puisi-puisi Guntur Sekti Wijaya

CINCIN TULANG jangankan mencabut, memasukkannya saja belum! tetap saja emplek di jalan Sakura datangkan imigran hitam-putih yang berada dalam klasemen warna tiada lincak hanya maskot-maskot tubuh sajikan nikmat dan renungkan peragawati di atas jalan sebening aqua menjelma umpan segar hilangkan tengik hati dari slogan hitam berasap putih juga sanjung tahi ooo... cincin tulang masukkan diriku di sela rindu jauhkan dari radio dengkul atau patroli peras hati yang kisahkan hitamnya malam ooo... cincin tulang aku munafik melilitkan diri pada sebatang rokok menunggu kualat BIRU cuaca pagi tak kunjung membaik tetap menetap di ujung jazirah mengambang, mengenyam siulan fauna klinik kumuh tetap saja membosankan menambah rekapitulasi hitam gulita yang gelap menyeringai memancing geram hingga roda yang berputar berhenti sejenak : untuk mencaci tersebut belum final, belum semifinal mungkin bisa untuk sekadar termangu di atas sofa namun harus terpejam mata menghindar dari kilauan video atau slide sh...

Perihal Membaca Puisi

beberapa waktu lalu saya, entah beruntung atau untung, menjadi juri lomba baca puisi di beberapa tempat. yakni di kampus dan di departemen agama Sidoarjo. untungnya dari Depag saya mendapat honor juri (hehehe...) namun sangat disayangkan di kampus nihil. maksud saya nihil honor. apa boleh buat, saya harus menempatkannya sebagai nasionalisme. ternyata ada beberapa pokok yang harus saya garis bawahi. lomba baca puisi atawa deklamasi ternyata masih tetap diartikan sebagai parade teriak-teriak. mengapa? sungguh sebagian besar peserta edan dengan cara berteriak. ya mungkin mitos bahwa baca puisi harus diselingi dengan teriak itulah yang masih tertanam di sebagian pikiran peserta. lantas, bagaimana dengan peserta yang tidak bengok-bengok? bagus. katakanlah ada suatu penempatan situasi. kapan puisi harus dibaca keras dan pelan. sebagian peserta baca puisi abai dengan hal ini. selanjutnya ada pola yang sama yang saya perhatikan. bagaimana sebagian peserta selalu mengucapkan kata...puisi X...bu...

Kacamata

Saya penasaran dengan cerpen ini karena ketika dulu teman-teman Sastra Indonesia Unair angkatan 2004 mengajak saya berdiskusi, saya belum sempat membaca cerpen ini. Saya juga berminat untuk membuat esai mengenai cerpen ini. bagaimana Saudara Indiar? KACAMATA cerpen Indiar Manggara Kacamata itu masih dibiarkannya terlipat rapi. Bagio terus memandanginya dengan bermacam pertanyaan di benaknya yang tak pernah ia temukan jawabannya. Kacamata itu berada tepat di pojok kiri, di atas meja tulisnya dan dibiarkan begitu saja terlipat rapi, hanya dialasi selembar tisu toilet. Meskipun di sekitar kacamata itu buku-buku dan peralatan tulisnya berserakan seperti rongsokan, tetapi pandangan Bagio tak pernah lepas sedetik pun dari kacamata itu. Seolah-olah kacamata itu melekat pada kedua bola matanya. Sekali waktu ia mencoba memungut kacamata itu dan mencoba mengenakannya, tetapi buru-buru ia menarik kembali tangannya yang sudah terlanjur terjulur menggapai dan segera mengurungkan niatnya. Seketika i...

Negeri Peri dalam Kartu Pos

Cerpen Dody Kristianto* Aku sengaja mengirim sebuah kartu pos untukmu. Kartu pos yang tak sempat kukirimkan setahun lalu. Mungkin kau takkan menduga bukan, bila aku merelakan menulis sepatah dua kata untukmu. Walau aku tahu itu berat. Dan setelah membaca kata-kataku, aku tak hendak menebak apa yang ada dalam hatimu. Mungkin kau suka atau lara setelah kau baca kartu pos itu. Bintang-bintang tetap beredar di cakrawala. Tetap pada posisinya. Seperti dulu kau menatap langit ketika purnama tiba. Kau selalu mengatakan bukan, bila di balik bulan ada negeri sekawanan peri. Kau selalu berkata akan hal itu padaku. Kau sangat percaya akan kebenarannya. Ya, kata-katamu kerap membuat aku terlena dan mencoba untuk memercayai hal itu. Kau tahu, aku selalu ingin tersenyum bila mengingat kata-katamu. Bahkan aku selalu merasa kau ada di dekatku dan tetap membisikkan hal itu padaku. Peri-peri yang tinggal di balik bulan? Seperti apakah mereka? Kau selalu mencoba meyak...