Langsung ke konten utama

Puisi-puisi Mashuri di Koran Tempo 21 Agustus 2011

PEJANTAN MATAHARI
karena namamu, aku pergi ke bantaran kabut
serupa cahya tanpa mata, aku diam dalam kata;
di sajak, kuhantarkan jejak meski lantak
luka disamarkan balutan rima,
meski wajah ditembus sinar dengan bias berlaksa
namamu serupa pisau di ingatanku
menyeretku ke galau batu-batu
hingga riwayatku tumbuh di debu
sekarat terjerat muasal, dipenggal tumbal
hayat
esok, bila ada yang berkokok, sebut ia pejantan
matahari
ia yang didahului fajar, geletarkan birahi
tepati janji pada pagi
karena namamu, aku pergi mengikuti sepi
Surapringga, 2011
DADAR REMBULAN

di wajanmu, telur rembulan tampak muram
bundarnya membayang korona di tungku pendiangan,
ketika ia pecah dan menjelma cairan kental
kita saling diam, mengeja gelembung minyak
yang menyambar
larut pada riak-riaknya, hanyut di antara kepul asap,
panas, juga sengak yang mendadak menyeruak
di halaman depan pembauan
kita masih saling diam meski kita tahu dari mana ia bermula
bukankah ia dari petarangan yang telah lama dieram induknya

tapi rembulan tak kunjung pudar, lingkarnya masih tegar
semakin memberi batas antara alum dan segar, semakin
tegas memantulkan wajah kita yang memar
perapian pun terus terus berkobar-kibar

selepas bara padam
di wajanmu, wajah kita terangkum dalam telur dadar
yang kelewat matang, seperti rembulan
nyaris tenggelam

Yogyakarta, 2011

ZIARAH MATAHARI

di makam, tak kutemukan arah malam
kecuali jalan setapak, makadam, yang dikirimkan siang
tak juga kutemukan pusar langit
kecuali getar wingit

Yogyakarta, 2011

Mashuri lahir di Lamongan, 27 April 1976. Alumnus Sastra
Indonesia Universitas Airlangga Surabaya. Novelnya adalah
Hubbu (Gramedia, 2007).

Puisi-puisi Mashuri yang termuat di Koran Tempo pada hari Minggu 21 Agustus 2011 memang berbeda dari puisi Mashuri yang dulu pernah saya baca. Puisi-puisi Mashuri pada Kortem kemarin terasa lebih halus dan Mashuri lebih detail dan halus. Metafora dalam puisi Huri lebih menonjol. Maka, saya pengen mengapresiasi puisi Mashuri pada blog saya ini!

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perihal Membaca Puisi

beberapa waktu lalu saya, entah beruntung atau untung, menjadi juri lomba baca puisi di beberapa tempat. yakni di kampus dan di departemen agama Sidoarjo. untungnya dari Depag saya mendapat honor juri (hehehe...) namun sangat disayangkan di kampus nihil. maksud saya nihil honor. apa boleh buat, saya harus menempatkannya sebagai nasionalisme. ternyata ada beberapa pokok yang harus saya garis bawahi. lomba baca puisi atawa deklamasi ternyata masih tetap diartikan sebagai parade teriak-teriak. mengapa? sungguh sebagian besar peserta edan dengan cara berteriak. ya mungkin mitos bahwa baca puisi harus diselingi dengan teriak itulah yang masih tertanam di sebagian pikiran peserta. lantas, bagaimana dengan peserta yang tidak bengok-bengok? bagus. katakanlah ada suatu penempatan situasi. kapan puisi harus dibaca keras dan pelan. sebagian peserta baca puisi abai dengan hal ini. selanjutnya ada pola yang sama yang saya perhatikan. bagaimana sebagian peserta selalu mengucapkan kata...puisi X...bu...

Puisi-puisi Dorothea Rosa Herliany (puisi lama)

MISA SEPANJANG HARI setelah letih merentang perjalanan, kita sampai di perempatan sejarah. menghitung masasilam dan merekareka masadatang. segala yang telah kita lakukan sebagai dosa, berhimpithimpitan dalam album. berebut di antara mazmurmazmur dan doa. dan kita pun belum putuskan perjalanan atau kembali pulang. katakata gugur jadi rintihan. percakapan berdesis dalam isakan. keringat anyir dan darah bersatu menawar dahagamu yang terlampau kental. engkau imani taubatku yang mengering di antara dengkur dan igauan. tubuh beku di antara altaraltar dan bangkupanjang. di antara mazmur dan suara anggur dituangkan. di seberang mimpi, pancuran dan sungai mati dengan sendirinya. tibatiba kaupadamkan cahaya itu. ruang ini gelap. aku raba dan kucaricari tongkat si buta. kutemukan cahaya dalam fikiranku sendiri. pejalan beriringan di antara gang dan musim yang tersesat. kunyalakan cahaya dalam hatiku. biarlah jika akhirnya membakar seluruh ayat dan syair yang lupa kukemasi. 1992 IBADAH SEPAROH USI...

Puisi-puisi Indra Tjahyadi

AFTERWORD pada akhirnya kau pun pergi entah ke benua mana entah ke laut mana entah ke dunia mana tapi masih saja aku setia kirimkan pesan pesan singkat buatmu meski di gerimis tak mesti hanya rasa sakit yang menghubungkanku denganmu dengan bayang-bayang darah yang menjelma huruf huruf sunyi bait-bait murung sajakku 2007. MAUT SENDIRI engkau terasa begitu jauh bahkan lebih jauh ketimbang bulan sungguh pernah kurajahkan kembang dan kupu-kupu di gelap dadamu tapi kecantikanmu adalah kepergian dikekalkan jarak terjauh siapa bertugur sendiri di bawah kabut mereguk derita yang tak juga surut bersama luka sunyi membakar buku-buku umur dan kerinduanku kiranya ingin aku mengaduh sekali lagi padamu ketika seekor burung malam terbang menembus mendung tapi hanya sosok langit yang remuk yang pernah terpekik dari suaraku tak ada doa tak ada airmata yang mengantarku sampai ke dasar lubuk kubur di kota tandus tak berlampu kututupkan pelupukku kukenang namamu darah hitam menetes dari sajakku butirannya...