Langsung ke konten utama

Postingan

What is Sastra?

Krido Waluyomukti* Sayup-sayup saya masih teringat acara diskusi Festival Seni Surabaya 2010 yang mengambil tema serem, Sastra Indonesia 25 tahun ke Depan. Jika dihitung dari tahun 2010, maka tahun itu adalah tahun 2035. Kira-kira seabad yang lalu, 1930-an, kita sedang berasyik masyuk dengan Majalah Pujangga Baru. Dalam khazanah sejarah sastra kita kenali sebagai angkatan Pujangga baru. Angkatan yang memiliki harapan besar tentang modernitas budaya di Indonesia, namun tidak berterima dalam implementasi dan raihan estetik. Lalu akan ke mana sastra kita 25 tahun ke depan? Mungkin kita dapat membaca tahun 2035 melalui gejala yang terjadi pada saat ini. Ya, semacam ramalan kecil. Kita tentu tak memungkiri jika sastra terus mengalami perluasan medium. Sastra koran, yang selama beberapa tahun belakangan menjadi medium pembaptisan bagi mereka yang ingin dipredikati “sastrawan”, seolah sedang mengalami periode jenuh. Tidak ada perkembangan dan sumbangan signifikan bagi lahirnya karya-karya kon...

Tulang Belulang

Cerpen Rama Dira Kini, kemana pun pergi, tulang belulang anaknya itu selalu ia bawa. Semuanya bermula dari kematian sang istri. Nyawa perempuan itu habis di tangan sendiri. Ia terjun bebas dari lantai dua belas. Pikiran sehatnya tandas setelah mendapati perutnya semakin membesar, berisi benih majikannya. Pada akhirnya, perempuan itu pulang dari negeri yang jauh dengan kondisi yang tak manusiawi, dalam sebuah peti mati murahan. Lelaki itu tak bisa mengelak dari kenyataan yang menyakitkan ini. Serta-merta ia terhempas ke dalam duka yang nyaris tanpa ujung. Bukan semata tersebab kehilangan orang yang begitu ia cintai tapi juga sumber penghidupan. Selama ini, istrinya itu rutin mengirimkan uang asing dari negeri asing yang jika dirupiahkan, jumlahnya bisa membiayai lebih dari cukup hidupnya bersama anak semata wayang mereka. Kenyataan yang tak dinyana itu memaksanya kembali menggeluti pekerjaan semula, berjualan obat tradisional racikan sendiri, di pasar. Tak seberapa uang yang bisa dipe...

Membaca Manuskrip tentang Musim dan Runtuh

oleh Krido Waluyomukti Buku kumpulan puisi Manuskrip tentang Musim dan Runtuh adalah antologi puisi tunggal pertama Dody Kristianto. Sebagian dari puisi-puisi ini berawal dari masa awal kepenulisan Dody, yakni tahun 2006-2008. Beberapa puisi dalam antologi ini pernah terpublikasi pada jurnal-jurnal independen maupun antologi yang terbit secara terbatas. Beberapa puisi yang lain bahkan belum dipublikasikan oleh penyair dalam media apapun. Berbeda dengan kecenderungan puisi-puisi yang dewasa ini banyak mewarnai lembar sastra media-media di Indonesia yang bertendensi mengagungkan lirisisme dan simbolisasi, puisi-puisi Dody lebih banyak bertaruh pada wilayah eksplorasi kata, sehingga rima dan musik dalam sebagian puisinya seringkali terabaikan. Begitu juga dengan wilayah medan makna, kesan pertama yang didapati ketika membaca puisi-puisi Dody adalah gelap, nirmakna, dan pembaca harus bersabar kala meraba-raba gerimis hitam (mengutip pernyataan Yusuf Ariel Hakim yang pernah mendiskusikan pu...

Puisi-puisi Ashif Hasanuddin di Koran Tempo, 9 Januari 2011

Pintu Dari bara yang jadikan lelaki setengah merdeka aku datang mengetuk palung dalammu. Dengan telinga yang serupa radar api aku mencarimu, meniti sayap dan gerigi. Seperti jengkrik kususun segala bunyi, agar rautmu yang pasi tumbuh rerumbai, semacam puisi atau bebunga padi Yang menuju putih, seputih jalan yang diberkati di saat dedaun bersih oleh sisa embun pagi, oleh mimpi. Lia, adakah waktu yang lebih indah dari bunyi-bunyian ini? Bunyi yang kucari hingga ke akar daun dan tunas sepi. Sebab bunga, semua bunga, melindur, mengumamkan nama kendur yang tak terlipur kamus dan kitab anggur. (2010) Tirai Lantaran usialah aku temukan rasa dengan rantai mawar yang melukis kamar seperti perahu di bawah cahaya layar kata-kata telah renta saat surya menaiki tangga-tangga tak sempat bercengkerama sebab isyarat telah mendengung mesra dari ubunku yang tua, menggapai bunga-bunga di atas sana, di mana sang taman membalas doa-doa dengan butiran hujan (2010) Pendamping Dengan baju kudus sehabis perjam...

Tinggal Kritik dan Penerbitan Reporter

Oleh Ribut Wijoto Dalam satu tahun terakhir, 2010, ada beberapa fenomena baru dalam kesusastraan di Jawa Timur. Fenomena yang cukup menggembirakan. Kian tumbuh-matangnya kaum muda dalam peta kesusastraan. Tapi problem-problemnya tidak bergerak dari problem tahun-tahun sebelumnya. Problem yang semestinya mulai dicari jalan keluarnya pada tahun 2011 ini. Infrastruktur kesusastraan di Jawa Timur sebenarnya amat menunjang. Setidaknya ada 4 indikator. Pertama keberadaan akademik, kedua keberadaan media massa, ketiga keberadaan even, dan keempat keberadaan komunitas kesenian. Keberadaan kampus memberi kontribusi signifikan bagi tumbuh kembangnya kesusastraan di Jawa Timur. Fakta yang ada, mayoritas sastrawan merupakan jebolan kampus. Beberapa kampus mempunyai jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia . Semisal Universitas Airlangga Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, dan Universitas Jember. Ketiganya dilengkapi dengan beberapa kampus yang membuka jurusan Bahasa Inggris, Bahasa Jepang, maupun ...

Situs Majapahit Kembali Ditemukan di persawahan Desa Puri Kab. Mojokerto Provinsi Jawa Timur

Warga Dusun Tegal Sari, Desa Puri, Kecamatan Puri, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, menemukan tumpukan batu bata merah yang diduga sebagai candi di areal persawahan setempat. Suprapto, pemilik sawah, Minggu (2/1), mengatakan, tumpukan batu itu diduga sebagai candi karena besar batu bata yang melebihi batu bata normal saat ini. "Tumpukan batu ini bentuknya menyerupai dasar candi dan hal ini juga didukung dengan setiap kali saya mau menanam padi selalu menemukan jenis batu bata seperti ini," katanya. Mojokerto diketahui sebagai ibukota Kerajaan Majapahit yang semakin merosot ketika kekuatan baru yang mengibarkan bendera Islam mulai membesar di Demak, Jawa Tengah. Suprapto sudah melaporkan kepada aparat desa serta kepolisian setempat supaya tidak terjadi perusakan di areal penemuan tersebut. "Temuan ini juga telah dilaporkan kepada pihak Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Timur di Kecamatan Trowulan untuk menindaklanjuti penemuan ini," katanya. Seme...

Refleksi Sastra 2010

oleh Beni Setia INTI kontroversi dan polemik sastra Jawa Timur selama 2010 ini hanya berkisar di pertanyaan: siapa penyair Jawa Timur? Pertanyaan dan sekaligus ancangan kurasi yang dilakukan pihak berkepentingan ketika menggarisbawahi kehadiran penyair Jawa Timur dalam teks, acara baca puisi, serta buku antoloji. Satu prosedur kurasi yang lemah karena hanya merujuk siapa penyair yang aktif menulis serta karyanya terpublikasikan di media massa cetak saat ini. Yang memantik gugatan dari pihakpihak yang merasa telah bersikesusastraan sejak lama dan terbukti dengan karya yang dipublikasikan jauh di dekade sebelumnya, dan oleh komunitas yang aktif menampung dan memfasilitasi karya penyair yang sedang in mood berkreasi serta terbukti lewat publikasi karya secara intern komunitas atau di pembacaan lintas komunitas. Gugatan yang menohok, sebab mempertanyakan kurasi yang kuratornya malas mencari tahu siapa yang telah berkarya, serta siapa yang sedang in mood berkarya tapi tak tampil dalam media...