Krido Waluyomukti* Sayup-sayup saya masih teringat acara diskusi Festival Seni Surabaya 2010 yang mengambil tema serem, Sastra Indonesia 25 tahun ke Depan. Jika dihitung dari tahun 2010, maka tahun itu adalah tahun 2035. Kira-kira seabad yang lalu, 1930-an, kita sedang berasyik masyuk dengan Majalah Pujangga Baru. Dalam khazanah sejarah sastra kita kenali sebagai angkatan Pujangga baru. Angkatan yang memiliki harapan besar tentang modernitas budaya di Indonesia, namun tidak berterima dalam implementasi dan raihan estetik. Lalu akan ke mana sastra kita 25 tahun ke depan? Mungkin kita dapat membaca tahun 2035 melalui gejala yang terjadi pada saat ini. Ya, semacam ramalan kecil. Kita tentu tak memungkiri jika sastra terus mengalami perluasan medium. Sastra koran, yang selama beberapa tahun belakangan menjadi medium pembaptisan bagi mereka yang ingin dipredikati “sastrawan”, seolah sedang mengalami periode jenuh. Tidak ada perkembangan dan sumbangan signifikan bagi lahirnya karya-karya kon...
sastra ialah sesuatu yang tumbuh dari segala keterasingan, kesunyian serius yang tercipta ketika manusia dalam keadaan terdesak! namun sastra (harus) serius? tidak juga!