Langsung ke konten utama

Postingan

MEMO TIGA MASA LALU

a. di sebuah musim rahasia Di sebuah musim rahasia kutemu pohon masa lalu di sana terpahat namaku dan namamu ketika kita diam bertemu, saling membisu, lalu pulang pada rindu yang jatuh Di pohon itu pula,kupu-kupu berhamburan melambaikan namamu di langit petang tanpa kutahu, mereka meninggalkan namaku sendirian di ranting kerontang Sebab di ranting itu ulat-ulat memamah namaku, satu per satu sampai nama-namaku luruh, kulupakan dan tak kuhapal, satu per satu b. pohon renta pohon renta, yang usianya hanya mampu kita duga ketika bersua di siang lapang sebagai kanak-kanak berlarian bersembunyi dari terik yang memanjang kita tak bisa melawan hingga kita temukan sebatang pohon tua rindang pohon penghalang; senyap meneduhkan kupahatkan namaku, isyarat waktu yang membatu: aku ingin mengenalmu kusemaikan reranting mimpi untukmu, juga bebunga igau, juga kupu-kupu harum bakau agar sesekali engkau singgah dalam sepasang nama yang kita dedah pada rahasia paling purba c. seperti pusaran waktu seperti...

Sajak-sajak Ferdi Afrar

Singgah Ia menengadah ke angkasa seperti ada yang menatapnya manja bersembunyi dibalik awan, diantara kerumunan kicau burung. Seperti ada yang menyentil daun-daun dan juga jemuran sarung. seperti ada yang melambai, yang membuat rambutnya terburai. Seperti ada yang menggemerincingkan air, melumutkan dinding. seperti ada yang berbisik, merambat di kuping. Seperti ada yang menggesitkan cahaya di dedahan, kemudian menggambar di permukaan. seperti ada yang mengintip, ingin menyampaikan pesan. Seperti ada yang menunjukkan jalan kepada debu, membuatnya bersayap seperti kupu-kupu kemudian hinggap di matanya. seperti ada yang memberinya kado waktu, tempat ia menanggalkan amuk di tubuh memudarkannya di angkasa. Februari 2008 BILA bila aku dilahirkan kembali, inginku berteduh dalam dekapmu menempelkan bibirku yang mungil ini dalam puting payudaramu, selamanya. sampai mataku terpejam hingga tak terasa sisa susu itu mengalir ke pipiku hingga tak pernah kudengar kata anjing yang meloncat dar...

Puisi-puisi Nirwan Dewanto (Kompas 24 Agustus 2008)

selamat berjumpa kembali dengan blog kesayangan Anda ini. Kali ini saya akan menampilkan puisi dari Nirwan Dewanto yang muat di Kompas pada tanggal 24 Agustus 2008 kemarin. Energi kompleksitas Nirwan ternyata masih sangat terasa. Setelah tampil dengan antologi Jantung Lebah Ratu, puisi-puisi Nirwan tetap dengan daya pikat magisnya. Tentunya ini adalah pencapaian luar biasa dari seorang pembaca yang baik. Pun merupakan hasil kulminasi Nirwan selama bertahun-tahun menggeluti khazanah teks nasional maupun global. Selamat membaca. Telur Mata Sapi —untuk Sigmar Polke Hanya mata yang sudah menamatkan Biru samudra mampu menimbang Cangkang letih menggeletar ini. Hanya jari yang pernah bersengketa Dengan merah darah lancar meniti Lengkung seperti punggung iblis ini. Hanya jantung yang sesekali terperam Di gudang bawah tanah patut mengasihani Retakan yang menahan gelegak lendir ini. Hanya lukisan yang rela ditumbuhi Hijau lumut segera memisahkan Telur perempuan dari telur api. Hany...

Sebuah Esai Semenjana : Sastra Blog Kini

saya teringat bahwa saat ini saya sedang berada di depan komputer dan sedang mengupdate blog pribadi saya yang satu bulan ini hampir tak tersentuh. maka, esai semenjana ini semoga turut meramaikan blog saya. ternyata kian hari jumlah sastrawan yang ngeblog semakin lama makin banyak. saya baru tahu jika Nirwan Dewanto juga turut ngeblog. walau blognya masihlah minim tulisan. namun inilah terobosan dari salah satu maestro sastra Indonesia. Nirwan menyusul para sastrawan lain yang sudah ngeblog terlebih dahulu, semacam Ook Nugroho, M Aan Mansyur, Binhad Nurohmat, dll. kiranya jumlah ini masih akan terus bertambah. mengapa? karena via bloglah siapa tahu kita akan menemu kegenitan yang tidak mungkin termuat di media. beberapa waktu lalu saya sempat berdiskusi dengan salah satu penyair Surabaya Dheny Jatmiko. Dheny begitu mengkhawatirkan bahwa sastra kelak akan tercampur dengan kitsch di dalam perkembangannya. sekronik itukah? eits, sabar dulu bung! saya kira tak separah itu. bukankah setiap...

Pelukis Gelombang Laut

                                                                  Cerpen   Dody Kristianto* Perempuan itu terbangun dari tidurnya. Tubuhnya perlahan bangkit dari lautan yang selama ini menyelubunginya. Ia nampak elok nan gemulai. Benar-benar menunjukkan sebuah arsiran dan detil rinci air lautan yang membentuknya. Cahaya bulan terang memberi warna kuning langsat pada kulitnya yang semula bening. Ia nampak rupawan. Rambutnya tergerai panjang. Setiap lekuknya berasal dari percikan gelombang. Gelombang nyalang, ketika malam sangat hening dan tak ada suara lain terdengar selain deru gelombang yang panjang. Dan perempuan itu mulai melangkah gemulai. Matanya menatap bulan yang nampak bulat sempurna. Dari wujud kesempurnaan bulan, mata perempuan terbentuk, sangat terang dan meneduhkan bagi siapa pun yang ...

Dua Buah Cerpen Yusuf AH

sebuah Resume Singkat sama seperti bulan kemarin, ternyata waktu saya untuk mengisi blog ini cenderung tersita oleh pelbagai kesibukan. maka saya mencoba untuk mengup load dua cerpen Yusuf Ariel Hakim. Mas Yusuf adalah salah satu cerpenis handal yang dimiliki oleh Unesa. walau pada hakikatnya beliau lebih banyak berkutat pada sastra anak, namun pengembaraan seorang Yusuf terhadap khasanah teks tak dapat diragukan lagi. beliau telah banayak membaca dan menyerap pelbagai kekayaan khasanah teks, entah teks sastra, maupun buku-buku lain. maka dari itulah, pemublikasian cerpen-cerpen Yusuf AH penting. mengingat sebagai seorang pengarang Yusuf adalah pengarang yang telah kembali ke jalur kepengarangan. setelah sebelumnya beliau berkubang dengan kesibukan merampungkan skripsi. selamat datang Mas Yusuf, kami tunggu karya-karyamu! selamat menikmati cerpen Yusuf AH

Lelaki Yang Menyusu Matahari

Oleh Yusuf Ariel Hakim Sudah berkali-kali saya menyapanya, seorang lelaki yang selalu berdiri di pagi hari, tetapi selalu saja lelaki itu diam saja, selalu mengacuhkan kehadiran saya. Bahkan ketika saya mencoba untuk bersikap baik padanya meski hanya sekadar berpura-pura, tetap saja lelaki itu tak pernah memicingkan matanya kepada saya, apalagi membuka katup kedua bibirnya yang bersahaja. Dan ketika saya mencoba meluruskan niat saya untuk menyapanya dengan hati yang tulus dan keikhlasan, tetap saja lelaki itu tak mau menyahuti sapaan saya. Lelaki itu tetap berdiri angkuh memandangi matahari pagi sambil bibirnya komat-kamit seperti membaca sebuah mantra. Tentu saja, saya menjadi kelabakan dan penasaran, sudah berapa pagi saya selalu menyapanya. Yang bermula dari sebuah keisengan saya lantas menjadi sebuah rutinitas yang seakan-akan menjadi wajib bagi diri saya untuk sekadar menyapanya. Awal-awal hari minggu pertama saya masih betah untuk menyapa dan s...