Langsung ke konten utama

Puisi Douglas Malloch dan Taufik Ismail

Be the Best of Whatever You Are

By Douglas Malloch

If you can't be a pine on the top of the hill,

Be a scrub in the valley — but be

The best little scrub by the side of the rill;

Be a bush if you can't be a tree.

If you can't be a bush be a bit of the grass,

And some highway happier make;

If you can't be a muskie then just be a bass —

But the liveliest bass in the lake!

We can't all be captains, we've got to be crew,

There's something for all of us here,

There's big work to do, and there's lesser to do,

And the task you must do is the near.


If you can't be a highway then just be a trail,

If you can't be the sun be a star;

It isn't by size that you win or you fail —

Be the best of whatever you are!

--------------

Kerendahan Hati

Oleh: Taufik Ismail

Kalau engkau tak mampu menjadi beringin

yang tegak di puncak bukit

Jadilah belukar, tetapi belukar yang baik,

yang tumbuh di tepi danau

Kalau kamu tak sanggup menjadi belukar,

Jadilah saja rumput, tetapi rumput yang

memperkuat tanggul pinggiran jalan

Kalau engkau tak mampu menjadi jalan raya

Jadilah saja jalan kecil,

Tetapi jalan setapak yang

Membawa orang ke mata air

Tidaklah semua menjadi kapten

tentu harus ada awak kapalnya….

Bukan besar kecilnya tugas yang menjadikan tinggi

rendahnya nilai dirimu

Jadilah saja dirimu….

Sebaik-baiknya dari dirimu sendiri


NB : ingat di sini ditulis Taufi(K) Ismail bukan Taufi(Q) Ismail

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Puisi-puisi Dorothea Rosa Herliany (puisi lama)

MISA SEPANJANG HARI setelah letih merentang perjalanan, kita sampai di perempatan sejarah. menghitung masasilam dan merekareka masadatang. segala yang telah kita lakukan sebagai dosa, berhimpithimpitan dalam album. berebut di antara mazmurmazmur dan doa. dan kita pun belum putuskan perjalanan atau kembali pulang. katakata gugur jadi rintihan. percakapan berdesis dalam isakan. keringat anyir dan darah bersatu menawar dahagamu yang terlampau kental. engkau imani taubatku yang mengering di antara dengkur dan igauan. tubuh beku di antara altaraltar dan bangkupanjang. di antara mazmur dan suara anggur dituangkan. di seberang mimpi, pancuran dan sungai mati dengan sendirinya. tibatiba kaupadamkan cahaya itu. ruang ini gelap. aku raba dan kucaricari tongkat si buta. kutemukan cahaya dalam fikiranku sendiri. pejalan beriringan di antara gang dan musim yang tersesat. kunyalakan cahaya dalam hatiku. biarlah jika akhirnya membakar seluruh ayat dan syair yang lupa kukemasi. 1992 IBADAH SEPAROH USI...

Puisi-puisi Kriapur

KUPAHAT MAYATKU DI AIR kupahat mayatku di air namaku mengalir pada batu dasar kali kuberi wajahku pucat dan beku di mana-mana ada tanah ada darah mataku berjalan di tengah-tengah mencari mayatku sendiri yang mengalir namaku sampai di pantai ombak membawa namaku laut menyimpan namaku semua ada di air Solo, 1981 AKU INGIN MENJADI BATU DI DASAR KALI Aku ingin menjadi batu di dasar kali Bebas dari pukulan angin dan keruntuhan Sementara biar orang-orang bersibuk diri Dalam desau rumput dan pohonan Jangan aku memandang keluasan langit tiada tara seperti padang-padang tengadah Atau gunung-gunung menjulang Tapi aku ingin menjadi sekedar bagian dari kediaman Aku sudah tak tahan lagi melihat burung-burung pindahan Yang kau bunuh dengan keangkuhanmu —yang mati terkapar Di sangkar-sangkar putih waktu O, aku ingin jadi batu di dasar kali 1982 KOTA KOTA KOTA dari kerangka tanah kerangka darah ribuan jasad angin terdampar di kota lapar pengembara hanya bayang-bayang ngambang kerangka ombak berkejaran...

Puisi-puisi Indra Tjahyadi

AFTERWORD pada akhirnya kau pun pergi entah ke benua mana entah ke laut mana entah ke dunia mana tapi masih saja aku setia kirimkan pesan pesan singkat buatmu meski di gerimis tak mesti hanya rasa sakit yang menghubungkanku denganmu dengan bayang-bayang darah yang menjelma huruf huruf sunyi bait-bait murung sajakku 2007. MAUT SENDIRI engkau terasa begitu jauh bahkan lebih jauh ketimbang bulan sungguh pernah kurajahkan kembang dan kupu-kupu di gelap dadamu tapi kecantikanmu adalah kepergian dikekalkan jarak terjauh siapa bertugur sendiri di bawah kabut mereguk derita yang tak juga surut bersama luka sunyi membakar buku-buku umur dan kerinduanku kiranya ingin aku mengaduh sekali lagi padamu ketika seekor burung malam terbang menembus mendung tapi hanya sosok langit yang remuk yang pernah terpekik dari suaraku tak ada doa tak ada airmata yang mengantarku sampai ke dasar lubuk kubur di kota tandus tak berlampu kututupkan pelupukku kukenang namamu darah hitam menetes dari sajakku butirannya...