Langsung ke konten utama

Postingan

Sastra (di) Sekolah dan Harapannya

                                                                     Oleh Umar Fauzi Ballah*             Beberapa tahun yang lalu saya menghadiri sebuah acara kesusastraan yang diadakan Ponpes Annuqayah, Guluk-Guluk binaan Kiai M Faizi. Dalam sambutan atas terbitnya antologi puisi karya santri -santri Annuqayah tersebut, M Faizi menyampaikan sebuah fenomena psikogeorgafis masyarakat Madura. M Faizi mengatakan bahwa orang Madura perlu bukti. Kalau sekadar ngomong , orang-orang akan sulit untuk meniru. Karena itu, dalam rangka memotivasi santrinya agar memunyai kreativitas dalam hal menulis, M Faizi memberikan teladan bahwa menerbitkan buku adalah perkara mudah. Dari situlah segalanya bermula dan tunas sastra terus bermunculan.    ...

Menilik Kembali Sudut Pandang Anak-anak dalam Puisi

Oleh Dody Kristianto* Membaca kembali “distribusi” puisi-puisi Indonesia terkini, sebagian besar publik sastra bisa jadi meyakini bahwa puisi-puisi Indonesia tersiar melalui tiga jalur besar yakni penyiaran melalui media massa cetak, penyiaran melalui media online maupun jejaring sosial, serta melalui pergaulan antarkomunitas. Penyiaran puisi di media cetak pun masih dianggap sebagai tolok ukur kemampuan seorang penyair atau calon penyair. Sebanyak apa pun puisi yang disiarkan di media online , jejaring sosial, maupun pada pertemuan antarkomunitas, kualitas dan kapabilitas “kepenyairan” seseorang masih diragukan. Tentu hal tersebut tidak sepenuhnya benar. CMA terbitan Ganding Pustaka Sekitar tahun 2012 lalu, ada ajang sastra Forum Penyair Internasional-Indonesia: What is Poetry yang dihelat di empat kota: Surabaya, Malang, Yogyakarta, dan Magelang. Dari perhelatan sastra internasional tersebut, kita membaca nama yang asing dalam dunia perpuisian di Indonesia, taruhlah nama-...

Surabaya Tetap Woles

Di tengah gempuran perdebatan puisi-esai, saya menerima notifikasi dari seorang kawan Facebook, Ribut Wijoto. Notifikasi Facebook itu berisi sebuah kegiatan bertajuk Bengkel Sastra Bengkel Muda Surabaya. Sontak, hal itu membangkitkan kembali memori saya saat masih bertungkus lumus di Surabaya, saat masih berkuliah, saat masih berproses bersama kawan-kawan. Pun postingan tersebut mengharu biru. Bahwa mengingat nama Halte Sastra tentu tak lepas pula dari nama Ribut Wijoto, kritikus sekaligus seorang pelapak buku yang masih tetap setia meramut bibit-bibit muda penulis di Surabaya, pun Jawa Timur pada umumnya.  Halte Sastra, seingat saya sudah lama dihelat oleh Dewan Kesenian Surabaya. Mulai dari awal tahun 2000-an yang mengusung konsep tarung. Karenanya, lahirlah Penunggang Lembu yang Ganjil (Indra Tjahyadi vs Tengsoe Tjahjono), Keajaiban Bulan Ungu (W Haryanto vs Tjahjono Widijanto), serta beberapa buku yang memuat karya beberapa penyair seperti Rusdi Zaki, HU Mardi Luhung, Har...

Saya Ingin Menghidupkan Kembali Rumah Liar Saya

Tahun 2018. Cukup jauh rupanya jarak antara tulisan ini dengan tulisan terakhir saya di blog surem ini. Pada rentang waktu itu pula, saya sudah tak berdiam di Jawa Timur lagi. Ya, saya berpindah ke Tanah Jawara, Banten. Pun saya kini sudah berkeluarga: ada istri dan anak. Tentu saja, blog ini hidup kembali dengan semangat yang berbeda dari saat kali awal saya lahirkan: sebagai tugas akhir mata kuliah kehumasan yang saya lanjutkan sebagai medium berkreasi.  Cukup banyak perubahan yang terjadi selama saya vakum menulis di blog. Presiden yang berganti, kondisi sosiopolitik ekonomi yang berubah, hingga kondisi kesusastraan yang jauh berbeda dengan tahun-tahun saya mulai menghidupkan blog surem ini. Buletin SARBI yang dulu juga saya anggit bersama kawan-kawan di Sidoarjo saat ini sedang dalam masa vakum. Dan saya tentu saja tidak menghendaki buletin ini bangun kembali, hehehe. Biarlah ia abadi dalam tidur panjangnya dan menjadi monumen persahabatan antara saya dengan kawan-kawan, sep...

Puisi-puisi Agam Wispi

Agam Wispi , (lahir di Pangkalan Susu, Sumatera Utara, 31 Desember 1930 – meninggal di Amsterdam, Belanda, 1 Januari 2003 pada umur 72 tahun), adalah seorang penulis Indonesia, termasuk sebagai salah seorang penulis sastra eksil Indonesia. Ia mulai menjadi eksil, orang yang hidup di pengasingan, di Belanda sejak tahun 1988. Ia adalah seorang penyair, banyak menulis sajak, juga cerpen dan drama. Puisi-puisi ini diambil dari situs marxist.org. Surabaja tiap kita djumpa surabaja aku selalu remadja gembira kepada kerdja pasti kepada harapan surabaja laut dan kota rata surabaja bau keringat bau kerdja ketegarannja harum semerbak dan malamnja malam bertjinta deritanja terisak-isak dalam dengus napas darah bergelora tjemara bersiut meliut semampai wilo merunduk merenung sungai besok ke laut dia akan sampai tapi ini! malam pelaut buih hidup jang menggapai! surabaja lebih remadja dalam bantingan usia kutjinta surabaja sebab dia kota kelasi ku...

Menolak Kanalisasi Puisi Jawa Timur

Oleh Arfan Fathoni* MENYIMAK esai F Aziz Manna yang berjudul “Tiga Aliran Puitika Jawa Timur” sangat terasa sekali bahwa para kritikus (atau pengamat?) sastra kita masih gemar dengan kanalisasi dan dikotomi, membagi-bagi masyarakat menjadi beberapa blok. Di satu sisi, hal ini dapat memudahkan kita dalam mengidentifikasi, lebih-lebih meneliti secara mendalam sebuah kelompok dan estetika yang diusung suatu kelompok. Namun, di sisi lain, pendikotomian itu tak pelak akan menimbulkan pola-pola pemikiran bahwa hubungan dalam sastra ternyata kurang lebih sama dengan hubungan gangster. Di mana, seseorang harus bergabung dengan seseorang yang lain untuk menghadapi kelompok lain. Aziz membagi aliran puitika Jawa Timur dalam tiga kelompok besar : aliran para pemilik teguh puisi gelap, aliran para peyakin puisi terang, dan aliran alternatif penganjur suara-suara lain yang dipelopori oleh W Haryanto. Pembagian ini sendiri sudah mengesankan hal yang berbau Surabaya-sentris. Artinya, pemba...